Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyatakan harapannya agar Indonesia dapat menjadi teladan global sebagai negara yang paling majemuk, toleran, dan rukun. Pernyataan ini disampaikan dalam kegiatan Jalan Santai Kerukunan dan Kebhinekaan Lintas Agama di Katedral, Jakarta, pada Sabtu (9/5/2026).
“Itu harapan kita, ekspektasi ke depan. Tidak ada orang, tidak ada manusia, etnik mana pun yang tidak suka dengan kerukunan, kedamaian, dan toleransi,” kata Nasaruddin di Jakarta. Ia menambahkan bahwa tingkat kerukunan di Indonesia terus meningkat sejak kemerdekaan, didukung oleh peran Kepala Negara yang memberikan ruang bagi umat beragama. Oleh karena itu, Nasaruddin mengingatkan agar tidak ada pihak yang mengganggu kedamaian tersebut.
Lebih lanjut, Nasaruddin menyoroti Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral di Jakarta sebagai salah satu simbol nyata toleransi di Indonesia. “Insha Allah, ke depan, tak berhenti di sini. Kami juga akan melanjutkan dengan melakukan berbagai macam kegiatan lintas budaya, lintas etnik, lintas agama, lintas kebudayaan, dan betul-betul Indonesia itu suatu keutuhan, Indonesia itu sebuah konfigurasi seperti lukisan,” tuturnya.
Ia juga mengapresiasi Jakarta yang belum lama ini meraih peringkat kedua sebagai kota teraman di Asia Tenggara, setelah Singapura. “Kita sudah mengalahkan Filipina dan mengalahkan negara-negara lain di Asia Tenggara. Tingkat kerukunan kita pun juga mencapai puncaknya, mohon dipertahankan,” ungkap Nasaruddin.
Capaian ini merujuk pada laporan Global Residence Index edisi 16 Januari 2026, yang menempatkan Jakarta di posisi kedua kota teraman di Asia Tenggara pada 2026 dengan skor 0,72, di bawah Singapura dengan skor 0,90.
Nasaruddin berharap agar kota atau wilayah lain di Indonesia dapat mencontoh keberhasilan Jakarta dalam menjaga kerukunan dan keamanan.
