Protes anti-perang berkobar di dekat Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat pada 7 April 2026, menentang serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Di tengah gelombang demonstrasi tersebut, Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata sementara selama dua minggu. Gencatan senjata ini bertujuan menghentikan permusuhan, dengan syarat Iran membuka kembali Selat Hormuz sementara negosiasi diplomatik berlanjut menuju resolusi yang lebih permanen. Namun, di balik langkah ini, bayang-bayang ego Donald Trump disebut-sebut menjadi penentu arah konflik.
Mentalitas “Winner Takes All” yang Mendarah Daging
Konflik Iran sepertinya tidak akan berakhir sampai semua keinginan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terpenuhi. Trump dikenal sebagai sosok yang hanya menginginkan kemenangan mutlak, sebuah mentalitas yang dibangun di atas anggapan bahwa pemenang harus mendapatkan segalanya atau winner takes all. Ia memandang kehidupan lebih sebagai serangkaian pertempuran yang terus-menerus ketimbang proses kerja sama.
Kamus kemenangannya berpegang pada teori zero-sum game, di mana kemenangan harus ditebus dengan kekalahan mutlak di pihak lain. Dengan demikian, tidak ada istilah win-win solution atau kompromi dalam pandangannya. Mentalitas ini telah ia tunjukkan dalam banyak kejadian, mulai dari pemilihan presiden hingga perundingan pengakhiran perang dengan Iran.
Trump adalah satu dari sedikit orang di AS yang kalah dalam pemilihan presiden, tetapi mencalonkan diri lagi sebagai presiden. Hanya Grover Cleveland pada 1888 dan Herbert Hoover pada 1936 yang menempuh langkah serupa. Namun, berbeda dari Cleveland dan Hoover, Trump menang pada kesempatan pertama, kemudian kalah pada kesempatan kedua, dan menang pada kesempatan ketiga.
Ego Trump yang sangat besar acap mengabaikan etik tak tertulis dalam praktik politik di AS, termasuk tetap mencalonkan diri setelah kalah pada Pemilu sebelumnya. Bagi Trump, kekalahan adalah aib, dan aib itu harus ditutup dengan kemenangan.
Menolak Kekalahan dan Kritik
Mantan Menteri Perburuhan AS, Robert Reich, dalam opini di The Guardian pada 8 Mei 2026, menyatakan bahwa ego Trump menolak kekalahan karena kekalahan adalah hal yang menyakitkan. Hal ini terlihat pada Pemilu 2020, di mana ia menjadi satu-satunya calon presiden di AS yang tidak menerima hasil pemilu karena menjadi pihak yang kalah. Ia akan marah jika ada orang lain yang mengatakan dirinya kalah, atau jika ada orang menyatakan dirinya salah.
Situasi ini terjadi pada Paus Leo XIV yang menolak pengaitan agama dengan Perang Iran, dan kemudian Kanselir Jerman Friedrich Merz yang dengan berani menyatakan Iran telah mempermalukan AS. Merz juga menilai Trump tidak memiliki strategi yang jelas dan jalan keluar dalam Perang Iran.
Merz menyatakan Iran lebih kuat daripada yang diperkirakan orang, sementara pada saat bersamaan AS justru terlihat tidak memiliki strategi yang jelas di meja perundingan. Ia bahkan menilai Iran lebih piawai bernegosiasi dan juga dalam menentukan kapan waktunya tidak bernegosiasi. Mendengar hal itu, Trump murka dan mengancam menarik 5.000 serdadu AS dari Jerman serta menutup payung keamanan strategis untuk Jerman guna dialihkan ke Polandia.
Padahal, sebelum ini, Merz adalah pemimpin Eropa yang acap meredakan kemarahan Eropa terhadap Trump, mulai dari isu perang tarif sampai isu Greenland. Namun, Merz rupanya sudah tidak lagi melihat manfaat sikap akomodatif terhadap Trump setelah perang yang dikobarkan Trump terhadap Iran membuat perekonomian Jerman dan Eropa cedera parah. Kawan seiringnya, Menteri Keuangan Lars Klingbeil, bahkan menyatakan petualangan Trump di Iran sebagai “perang yang tak bertanggung jawab” karena merugikan perekonomian Jerman dan memicu krisis energi global. Trump sudah tentu menolak pandangan ini.
Eropa Menjauh, Trump Tetap Merasa Benar
Ironisnya, Trump sendiri berulang kali merundung Eropa, mulai dari menganggap Eropa sebagai beban keamanan AS, sampai menyatakan ingin mencaplok Greenland dari Denmark, yang bukan saja sekutu AS, tapi juga anggota NATO. Ia juga tidak terlalu serius dalam komitmennya di Ukraina, karena lebih memilih menjaga hubungan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin ketimbang menjaga perasaan sekutu-sekutunya di Eropa.
Eropa juga diam-diam tidak suka Trump digandeng Benjamin Netanyahu, bukan saja karena Perdana Menteri Israel ini dianggap ekstremis, tetapi juga sudah dinyatakan bertanggung jawab dalam kejahatan perang di Gaza oleh Mahkamah Pidana Internasional yang berada di Eropa. Oleh sebab itu, ketika Trump dan Israel melancarkan aksi unilateral terhadap Iran, Eropa serempak enggan membantu AS. Spanyol, yang mengakui Negara Palestina dan mengecam genosida Israel di Gaza ketika AS bungkam dalam soal ini, bahkan tidak mengizinkan wilayahnya dilalui oleh wahana-wahana perang AS. Trump tentu saja tidak bisa menerima perlakuan Spanyol ini. Spanyol dan Perdana Menteri Pedro Sanchez pun diserangnya, persis seperti yang terjadi pada Merz dan Paus Leo.
Trump merasa dirinya selalu benar. Ia juga tidak bosan memproklamasikan kemenangan di Iran walau bukti di lapangan tidak mendukungnya. Sejumlah media global, salah satunya The Independent di Inggris, sampai membuat lini masa proklamasi Trump mengenai kemenangan AS melawan Iran. Menurut The Independent, sejak 7 Maret hingga 5 Mei, sedikitnya Trump sudah 12 kali menyatakan AS menang perang di Iran. Padahal, tidak sejengkal pun wilayah Iran diduduki AS. Lebih parah lagi, sistem kepemimpinan Iran tetap tegak berdiri walau tokoh-tokoh pentingnya dibunuh oleh AS, termasuk Pemimpin Spiritual Ayatullah Ali Khamenei.
Tekanan Domestik dan Bandul Elektoral
Iran pantang menyerah. Bahkan kemampuan Iran dalam mengatasi dampak buruk blokade Teluk Persia oleh AS terhadap perekonomiannya lebih baik ketimbang kemampuan Trump dalam membendung tekanan politik di dalam negeri akibat kenaikan harga bensin yang sudah mencapai 4,50 dolar AS per galon (sekitar Rp20.500 per liter), yang di AS merupakan tertinggi dalam empat tahun terakhir. Hal itu diperparah oleh kenaikan harga pangan akibat harga pupuk naik oleh terganggunya rantai pasokan pangan akibat Perang Iran.
Situasi ini kentara merepotkan Trump karena membuat rakyat AS mempertanyakan kemampuannya dalam mengelola perekonomian. Buktinya, berdasarkan jajak pendapat Focaldata/Financial Times pekan lalu, 58 persen rakyat AS tidak puas pada cara Trump menangani inflasi dan kenaikan harga kebutuhan pokok. Mayoritas rakyat AS juga menentang perang terhadap Iran. Jajak pendapat Reuters/Ipsos akhir April lalu menunjukkan hanya 34 persen rakyat AS yang mendukung perang terhadap Iran. Angka itu lebih buruk dari angka pertengahan April dan pertengahan Maret.
Padahal, Partai Republik yang menjadi asal dan pendukung Trump, tengah menghadapi Pemilu Sela pada November. Sentimen buruk terhadap Trump bisa berakibat pada peluang calon-calon Republik tidak terpilih dalam Pemilu Sela. Pemilu Sela biasanya dimenangkan oleh partai yang tidak sedang berkuasa, yang dalam konteks sekarang adalah Partai Demokrat. Jika Republik tidak lagi menjadi mayoritas di parlemen, maka Trump bisa dihambat oleh legislatif. Lebih buruk lagi, ia bisa dimakzulkan, khususnya atas alasan kasus arsip predator seks, Jeffrey Epstein.
Namun, jika Demokrat tidak berhasil mengendalikan parlemen AS, maka ego Trump akan semakin tinggi. Jika itu yang terjadi, perang terhadap Iran sepertinya tidak akan berhenti sampai Iran menyerah tanpa syarat seperti diinginkan Trump. Mungkin periode Mei-November tidak akan terlalu bergejolak, bahkan mulai bulan depan sampai pertengahan Juli perseteruan di Teluk Persia mungkin akan sejenak mendingin demi Piala Dunia 2026. Namun, setelah November, situasi drastis bisa terjadi, yang membuat perang di Iran berhenti sama sekali atau malah berlanjut sampai AS merasa menang. Hal itu bergantung pada ego Trump, dan ego Trump bergantung pada ke arah mana bandul elektoral bergerak dalam Pemilu Sela. Jika bandul itu bergerak ke arah Demokrat, maka dunia mungkin akan relatif lebih tenang, tetapi jika tetap mengarah kepada Republik, situasi lebih buruk bisa terjadi.
