Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengklarifikasi dugaan mark-up dalam pengadaan sepatu bagi siswa Sekolah Rakyat (SR) yang sempat menjadi perbincangan di media sosial. Ia menegaskan bahwa seluruh proses pengadaan melalui APBN tahun anggaran 2025 dan 2026 telah dilaksanakan secara transparan, profesional, dan sesuai dengan pagu anggaran yang ditetapkan.
Dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta, pada Selasa (6/4/2026), Menteri Sosial Saifullah Yusuf, didampingi Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, menjelaskan mekanisme yang ditempuh. “Tentu melalui prosedur yang telah ditetapkan. Mekanisme pengadaan. Penanggung jawabnya adalah PPK atau Pokja. Proses dilalui dan pemenangnya tentu yang paling murah dan memenuhi standar yang telah ditetapkan,” ujarnya.
Saifullah juga membantah spekulasi terkait foto pemberian sepatu yang beredar di media sosial, yang menampilkan dirinya bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Menurutnya, sepatu dalam foto tersebut merupakan bantuan khusus dari Gubernur Jawa Timur, bukan bagian dari unit pengadaan Kementerian Sosial.
“Itu pemberian khusus dari Gubernur Jawa Timur untuk siswa Sekolah Rakyat saat acara di Jawa Timur, bukan pengadaan dari Kemensos. Sepatunya dari Ibu Khofifah, itu sumbangan. Jadi jangan salah paham karena gambarnya keliru,” tegas Saifullah.
Mensos merinci, setiap siswa Sekolah Rakyat mendapatkan empat pasang sepatu, meliputi sepatu harian (sneakers), sepatu olahraga, sepatu Pakaian Dinas Harian (PDH), dan sepatu Pakaian Dinas Lapangan (PDL). Seluruh item tersebut merupakan produk dalam negeri, sebagai wujud komitmen terhadap Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Rincian Harga Pengadaan Sepatu Siswa Sekolah Rakyat
Berdasarkan data realisasi, harga sepatu PDL siswa memiliki pagu Rp700.000 dengan harga realisasi lelang sebesar Rp640.000. Sementara itu, untuk sepatu harian jenjang SMP dan SMA, harga realisasi mencapai Rp300.000 dari pagu Rp500.000, dan jenjang SD sebesar Rp250.000.
“Setiap siswa dapat empat pasang sepatu. Semuanya sudah include dengan kaos kakinya. Kami terbuka untuk diaudit dan dicek apakah sudah memenuhi standar atau belum. Ini adalah bentuk afirmasi kita terhadap produk dalam negeri,” pungkas Saifullah Yusuf.
