Cuaca berawan menyelimuti Kota Semarang pada akhir pekan di penghujung Januari. Meski hujan beberapa hari terakhir menyisakan genangan di sejumlah kawasan, suasana lengang justru terasa di Jalan Gang Stadion Timur, Kelurahan Karangkidul, Kecamatan Semarang Tengah. Ruas jalan selebar sekitar lima meter di belakang Stadion Diponegoro itu menjadi saksi bisu perjuangan para penjaja literasi lawas.
Di sepanjang jalan, deretan kios kayu sederhana menjajakan buku-buku tua. Aroma khas kertas usang menyeruak dari tumpukan buku bersampul kusam dan halaman menguning. Beberapa mahasiswa terlihat berhenti sejenak, menanyakan judul-judul langka yang sulit ditemukan di tempat lain.
“Ada buku pajak penghasilan atau Ordonnantie op de Herziene Inkomstenbelasting tahun 1920 dan pajak perseroan tahun 1925?” tanya Susiana, seorang mahasiswi hukum dari salah satu perguruan tinggi di Semarang, kepada Haryono (55), salah satu pedagang.
Haryono, dengan kacamata bertengger di hidungnya, segera memilah tumpukan buku di rak belakang kiosnya. Ia kemudian menyodorkan sebuah buku tua dengan halaman menghitam dan tulisan perak yang mulai memudar. “Harganya Rp30 ribu, tinggal satu ini,” ujarnya. Tanpa banyak tawar-menawar, Susiana dan rekannya langsung membayar, lalu bergegas pergi, meninggalkan suasana kembali sepi.
Masa Kejayaan yang Memudar
Jalan Gang Stadion Timur bukanlah nama asing bagi pelajar dan mahasiswa Semarang. Kawasan ini telah lama dikenal sebagai sentra kios buku loak, rujukan utama untuk mencari buku-buku yang sudah tak terbit lagi atau tak tersedia dalam format digital. Masa kejayaan kawasan ini terjadi pada era 1990-an hingga awal 2000-an.
Saat itu, deretan kios selalu ramai pengunjung yang berburu berbagai jenis buku, mulai dari buku pelajaran, novel, komik, hingga majalah anak dan dewasa. “Dulu, sebelum teknologi digital berkembang seperti sekarang, setiap hari bisa ratusan orang datang membeli buku,” kenang Kasno, salah satu pedagang buku loak senior.
Menurut Kasno, daya tarik utama buku bekas adalah harganya yang jauh lebih terjangkau. “Harga buku bekas jauh lebih murah, bisa 30 sampai 50% dari harga toko,” tambahnya. Namun, kini suasana itu hanya tinggal kenangan. Meskipun masih puluhan kios yang buka setiap hari, jumlah pengunjung jauh berkurang drastis.
Perubahan perilaku membaca masyarakat dan maraknya toko buku daring menjadi penyebab utama meredupnya pamor kawasan ini. Kendati demikian, kesetiaan sebagian pengunjung tetap bertahan. Dewi Kartika (48), ibu rumah tangga asal Semarang, mengaku telah menjadi pelanggan setia sejak masa sekolah.
“Sampai sekarang masih sering ke sini. Kalau untuk anak-anak biasanya cari novel, kalau saya buku resep masakan,” tutur Dewi, menunjukkan bahwa kebutuhan akan buku fisik, terutama yang spesifik, masih ada.
Bertahan di Tengah Arus Digital
Kios buku loak di belakang Stadion Diponegoro adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah literasi Kota Semarang. Tempat ini bukan hanya surga bagi pencari buku murah dan langka, tetapi juga saksi bisu perubahan zaman. Menghadapi sepinya pengunjung, sejumlah pedagang mulai beradaptasi dengan memanfaatkan teknologi.
Mereka kini merambah penjualan daring untuk menjangkau pembeli yang lebih luas, terutama mahasiswa yang membutuhkan referensi lama yang sulit didapat. “Meskipun tidak banyak, tetap ada yang mencari. Biasanya mahasiswa membutuhkan literasi tua yang tidak ada versi digitalnya,” jelas Hardi (30), pedagada buku bekas lainnya.
Di tengah gempuran digitalisasi dan kemudahan akses informasi, kawasan buku loak ini mungkin tak lagi seramai dulu. Namun, di balik tumpukan buku yang menguning dan kios-kios kayu sederhana, semangat untuk menjaga jejak literasi lama tetap menyala, memastikan bahwa warisan pengetahuan tetap dapat diakses oleh generasi mendatang.
