Cuaca terik di Denpasar, Bali, pada Jumat (6/2/2026) siang tidak menyurutkan semangat sejumlah anak untuk mendatangi Gedung Annika Linden Centre. Diantar orang tua, mereka memasuki salah satu ruang kelas yang dikelola Yayasan Peduli Kemanusiaan (YPK) Bali. Desir sejuk dari mesin penyejuk ruangan menyambut delapan anak berusia 9-12 tahun, siap untuk sesi belajar melukis yang unik.

Tanpa banyak instruksi, anak-anak itu segera mengenakan celemek hijau, melindungi pakaian dari cipratan warna. Mereka tampak tak sabar mengikuti kelas seni lukis yang dipandu relawan dan instruktur.

Seni Lukis Tiup: Wadah Kreativitas Anak Disabilitas

Kelas seni lukis di YPK Bali ini telah berjalan sejak Februari 2025 dan kini diikuti oleh total 15 anak. Seluruh peserta tidak dipungut biaya, karena pembiayaan program ini sepenuhnya didukung oleh donasi. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak dengan disabilitas fisik dan mental, yang disebabkan oleh beragam faktor seperti kecelakaan, bawaan lahir, hingga autisme.

Jika melukis dengan kuas di kanvas adalah pemandangan umum, anak-anak di YPK Bali ini belajar melukis dengan teknik yang berbeda: ditiup. Mereka menggunakan alat bantu sedotan, kanvas, dan cat akrilik berbahan dasar air.

Nyoman Yuda, seorang relawan di sanggar tersebut, menyatakan kepuasannya melihat anak-anak menumpahkan kreativitas dengan keterampilan diri, alih-alih terpapar layar gawai terlalu lama. “Akan lebih produktif dan positif mereka sampai bisa mandiri di rumah melukis tiup, daripada lama-lama main ponsel atau gadget,” ujar jebolan Seni Rupa Desain Universitas Udayana (Unud) tahun 2000 itu.

Pria berusia 51 tahun yang juga menekuni seni musik ini menjelaskan, proses melukis dimulai dengan bermain warna pada kanvas. Anak-anak diajarkan menuang warna dengan metode lapisan, dari warna terang kemudian ditumpuk dengan warna lebih gelap. Setelah warna tersusun, mereka meniupnya. Tiupan panjang atau pendek, semuanya bebas ditentukan oleh sang anak.

Tiupan demi tiupan menggunakan sedotan itu menghasilkan tekstur dan pola warna baru yang unik. Sesekali, tawa dan canda memecah fokus mereka, saling berinteraksi dan mencermati ekspresi lucu saat meniup. Keseruan ini menghasilkan karya yang tidak bisa ditiru, dengan pola abstrak yang membentuk garis-garis atau bahkan objek alamiah seperti satwa atau flora, tanpa desain atau konsep awal. Karya-karya ini menjadi seni murni (fine art) yang istimewa dan bernilai tinggi bagi pengagum seni sejati.

Manfaat Ganda untuk Tumbuh Kembang Anak

Teknik lukis tiup memang dikenal luas di dunia seni rupa, namun bagi anak-anak, ini adalah hal baru yang sangat membantu mereka menjadi produktif. Pemilihan teknik ini bukan tanpa alasan.

Ayah tiga anak itu menyebutkan, dengan meniup, anak-anak melatih pernapasan, mirip dengan teknik olah vokal dalam musik. “Napas yang kuat menandakan daya tahan tubuh yang baik,” jelas Yuda. Selain itu, teknik ini juga menyesuaikan keterbatasan fisik, terutama menyangkut fungsi tangan.

Kelas lukis tiup diadakan setiap Jumat selama satu hingga dua jam. Meski singkat, Yuda berharap seni ini membawa dampak positif bagi tumbuh kembang anak-anak. Secara tidak sadar, mereka dilatih untuk berpikir logika dan intuisi melalui permainan warna, serta kesabaran, fokus, ketelitian, dan kemandirian.

Salah satu peserta yang menunjukkan kemajuan signifikan adalah Ayu Suanita, pelajar kelas VI SD di Desa Guwang, Gianyar. Awalnya, Ayu, yang berusia 11 tahun dan memiliki disabilitas fisik pada tangan, belum tertata dalam menuang warna. Kini, ia sudah bisa mandiri dan lukisan tiupnya bahkan membentuk objek alamiah berupa burung. Sepulang sekolah, Ayu juga melanjutkan hobinya menggambar dengan pensil krayon di rumah.

Karya-karya lukis tiup anak-anak ini dipamerkan di ruang kelas YPK Bali, seringkali dilihat oleh pengunjung atau donatur. Beberapa perhotelan juga memboyong lukisan-lukisan ini untuk dipamerkan, menarik minat wisatawan untuk membelinya.

Membentengi Anak dari Kecanduan Media Sosial

Mendorong anak-anak menekuni kesenian, termasuk seni lukis tiup, merupakan salah satu metode efektif untuk memperkaya kualitas hidup mereka dan membatasi risiko kecanduan media sosial.

Dokter spesialis anak Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Ni Luh Sukma Pratiwi Murti, menjelaskan bahwa melukis tiup dapat membantu mengisi kegiatan anak agar tidak terus-menerus terpapar layar elektronik. Dokter yang juga dosen subdivisi tumbuh kembang pediatri sosial (TKPS) Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan Anak Universitas Udayana/RSUP Ngoerah Denpasar ini menilai lukis tiup membantu mengasah kreativitas anak. “Seni lukis tiup bisa membantu mengisi kegiatan anak agar tidak terpapar layar elektronik terus menerus,” tegas Ni Luh Sukma.

Selain itu, aktivitas ini melatih motorik halus, koordinasi, konsentrasi, serta otot-otot oral motor (bibir, lidah, pipi, rahang) yang penting untuk makan dan komunikasi. Pengawasan pembimbing atau orang tua juga krusial untuk memastikan keamanan, seperti mencegah cat masuk ke mulut.

Upaya mendukung tumbuh kembang anak ini sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Pelindungan Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas), yang resmi berlaku pada 28 Maret 2026.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) mencatat, 48 persen pengguna internet di Indonesia adalah anak-anak di bawah 18 tahun. Lebih dari 80 persen anak Indonesia mengakses internet setiap hari dengan durasi rata-rata tujuh jam. Untuk membentengi anak dari dampak negatif seperti konten tidak layak dan kecanduan digital, pemerintah membatasi penggunaan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun.

Di samping kebijakan pemerintah, peran orang tua juga sangat penting dalam menyediakan ruang yang aman dan kreatif bagi anak-anak. Menggali bakat seni berpotensi besar mendukung tumbuh kembang mereka demi masa depan anak itu sendiri dan mewujudkan cita-cita Indonesia Emas.