Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 di Kota Batam berlangsung relatif tenang tanpa aksi unjuk rasa besar di jalan. Namun, di balik situasi yang kondusif tersebut, sejumlah isu krusial yang dihadapi buruh justru kian mengemuka, terutama terkait upah murah dan praktik alih daya atau outsourcing.

Kalangan buruh di Batam memilih tidak turun ke jalan pada tahun ini, menyusul perkembangan di tingkat nasional. Pertemuan antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal disebut telah membuka ruang bagi penyampaian aspirasi buruh secara langsung ke pemerintah pusat.

Ketua DPC Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kota Batam, Suprapto, menjelaskan bahwa keputusan tersebut merupakan bagian dari strategi gerakan buruh untuk mengawal kebijakan secara lebih efektif. “Rencana aksi sempat ada. Tapi setelah aspirasi diterima di pusat, kami kini fokus memastikan prosesnya berjalan hingga dibahas,” kata Suprapto, Jumat (1/5).

Menurut Suprapto, salah satu agenda utama yang kini menjadi perhatian adalah percepatan pembahasan Rancangan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang baru. Ia menilai waktu yang tersedia semakin sempit, sementara kepastian hukum bagi buruh sangat dibutuhkan. “Waktu kita tinggal beberapa bulan menuju akhir Oktober 2026. Ini harus segera diproses,” tegasnya.

Selain itu, isu upah murah masih menjadi keluhan utama para buruh. Mereka menilai masih ada perusahaan yang membayar di bawah standar Upah Minimum Kota (UMK), terutama di sektor-sektor tertentu di Kepulauan Riau.

Tak kalah penting, praktik outsourcing atau alih daya juga kembali menjadi sorotan. Buruh menilai sistem tersebut kerap merugikan pekerja, baik dari sisi upah, jaminan kerja, maupun perlindungan sosial. “Outsourcing ini masih banyak ditemukan. Kami minta ada ketegasan untuk menghapus atau setidaknya membatasi praktik yang merugikan pekerja,” ujar Suprapto.

Isu keselamatan dan kesehatan kerja (K3) turut mencuat dalam momentum May Day kali ini. Buruh meminta pemerintah dan perusahaan meningkatkan pengawasan untuk mencegah kecelakaan kerja yang masih kerap terjadi.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Batam mengapresiasi peringatan May Day yang berlangsung tertib. Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menilai kondisi tersebut penting dalam menjaga stabilitas daerah, terutama di tengah upaya menarik investasi. “Kami mengucapkan selamat Hari Buruh atas nama pemerintah dan masyarakat Batam. Kondisi yang aman dan kondusif sangat penting untuk memastikan kepercayaan investor tetap terjaga,” kata Amsakar.

Ia juga menyoroti tren positif investasi di Batam pada triwulan pertama 2026. Nilai investasi tercatat meningkat signifikan dari sekitar Rp8 triliun menjadi Rp17 triliun, atau tumbuh lebih dari 100%. “Hal ini menandakan lapangan kerja kian terbuka dan roda perekonomian daerah terus berputar,” tambahnya.

Meskipun suasana May Day berlangsung tenang, buruh menegaskan bahwa perjuangan mereka belum selesai. Mereka berkomitmen untuk terus mengawal isu-isu mendasar seperti kepastian hukum ketenagakerjaan, upah layak, serta perlindungan pekerja di tengah derasnya arus investasi. May Day 2026 di Batam pun menjadi cerminan bahwa tanpa aksi besar di jalan, dinamika perjuangan buruh tetap berlangsung—bahkan dengan tekanan isu yang semakin menguat.