Anggota Komisi XIII DPR RI Mafirion mendesak pemerintah untuk serius membongkar jaringan mafia pengirim Pekerja Migran Indonesia (PMI) secara ilegal. Desakan ini muncul menyusul insiden tragis tenggelamnya kapal yang mengangkut 37 WNI di perairan Perak, Malaysia, pada Senin, 11 Mei 2026.
Mafirion menegaskan bahwa insiden tersebut bukan sekadar musibah kecelakaan laut biasa, melainkan indikasi kuat adanya praktik pengiriman PMI ilegal yang terorganisir. “Aparat harus membongkar jaringan yang mengambil keuntungan dari penderitaan rakyat,” kata legislator bidang hak asasi manusia (HAM) itu dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (14/5).
Ia mendesak Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) dan aparat penegak hukum agar tidak hanya fokus mengejar nakhoda kapal. Menurutnya, prioritas utama adalah membongkar aktor intelektual di balik bisnis perdagangan manusia ini. “Kalau sindikatnya tidak diputus di hulu, tragedi memilukan seperti ini akan terus berulang,” ucap Mafirion.
Selain itu, Mafirion juga meminta Komisi Nasional (Komnas) HAM dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk aktif menyelidiki insiden ini. Perlindungan bagi korban yang selamat beserta keluarganya juga menjadi perhatian utama.
Tragedi ini diharapkan menjadi momentum bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi total terhadap sistem pengawasan keberangkatan dan edukasi masyarakat. Mafirion menekankan bahwa martabat negara tidak bisa ditawar, dan keselamatan warga negara adalah tanggung jawab utama. “Pemerintah harus benar-benar serius memberantas praktik ini dari hulu sampai hilir, bukan sekadar responsif saat ada jatuh korban,” tegasnya.
Kemlu RI Konfirmasi 7 WNI Tewas
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI telah mengonfirmasi bahwa tujuh WNI ditemukan meninggal dunia setelah hilang dalam insiden kapal tenggelam di perairan Pulau Pangkor, negara bagian Perak, Malaysia. Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI Heni Hamidah menyampaikan, kapal yang mengangkut 37 WNI tersebut tenggelam pada Senin (11/5) pagi waktu setempat.
Dari total penumpang, sebanyak 23 orang berhasil diselamatkan, sementara 14 lainnya dinyatakan hilang. “Dari 14 WNI yang sebelumnya dalam proses pencarian, 7 orang telah ditemukan meninggal dunia, dan jasadnya saat ini berada di RS di Perak untuk proses identifikasi dan penanganan lebih lanjut oleh otoritas setempat,” kata Heni dikonfirmasi pada Rabu (13/5).
Dengan ditemukannya tujuh korban tewas, otoritas SAR Malaysia masih terus melakukan pencarian terhadap tujuh korban hilang lainnya. Kemlu RI berencana mengirim tim untuk menelusuri keluarga korban yang diduga berasal dari Sumatera Utara, terutama karena sebagian besar korban diketahui tidak membawa dokumen perjalanan yang sah.
“Hal tersebut untuk keperluan identifikasi korban yang selamat dan meninggal, serta pembuatan dokumen terkait untuk penanganan selanjutnya,” tambah Heni.
