Aroma mentega dan gula yang dipanggang kini memenuhi dapur Sri Kasnita Tambunan di Kelurahan Bona Lumban, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah. Bau lumpur sisa banjir bandang yang sempat menyelimuti halaman rumahnya perlahan tergantikan. Di tengah kekhawatiran akan datangnya banjir susulan, Sri Kasnita menunjukkan keteguhan luar biasa, terus berjuang membuat kue Lebaran yang telah menjadi mata pencarian tahunannya.

Perjuangan Demi Baju Lebaran Anak

Bukan tanpa alasan Sri Kasnita berani membuka pesanan kue kering di tengah kondisi sulit ini. Ia mengaku, kegigihan tersebut semata-mata demi membelikan baju Lebaran bagi kedua anaknya dan mengembalikan aset-aset keluarga yang terbawa arus banjir beberapa waktu lalu. Banjir bandang itu terjadi akibat meluapnya Sungai Tukka, yang lokasinya tak jauh dari kediamannya.

“Karena mata pencarian suami belum bisa jalan, baju Lebaran juga belum ada khususnya untuk anak-anak. Biar gimanapun, anak-anak juga pingin kita belikan baju baru di Hari Raya nanti,” ujar Sri Kasnita dengan mata berkaca-kaca, saat menceritakan perjuangan hidupnya kepada ANTARA di tengah bulan Ramadhan.

Suami Sri, yang berprofesi sebagai teknisi mesin pendingin dari sebuah jenama minuman bersoda, kini tidak memiliki pemasukan tetap akibat bencana. Ia terpaksa bekerja serabutan. Kondisi ini membuat Sri merasa terpanggil untuk membantu perekonomian keluarga, apalagi ia juga menanggung biaya hidup kedua anaknya dan orang tuanya.

Keterbatasan dan Ancaman Bencana

Sri Kasnita sudah terbiasa memproduksi berbagai jenis kue kering, mulai dari chocho chips, nastar, hingga kembang goyang dan akar kelapa yang menjadi andalannya. Namun, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pemesanan tahun ini harus dibatasi jumlahnya. Kekhawatiran akan isu bencana susulan masih terus menyelimuti dirinya.

“Pesanan banyak, tahun ini. Tapi aku kurangi sedikit karena cuaca juga kan. Kalau sudah mendung dan hujan, pasti kamu tidak bikin kue karena kita harus mengemas barang-barang khawatir banjir susulan datang lagi,” jelasnya.

Usaha kue kering yang dijalankan Sri memang bukan usaha besar. Ia hanya memanfaatkan dapur rumahnya yang sederhana dan satu oven berukuran sedang. Meski demikian, setiap menjelang Lebaran, pesanan yang datang bisa mencapai ratusan toples.

Membuka Lapangan Pekerjaan di Tengah Kesulitan

Dalam aktivitas membuat kue ini, Sri tidak bekerja sendirian. Ia mengajak saudarinya, Sariani Tambunan, untuk membantu proses produksi kue kering yang telah banyak dipesan pelanggan. Pelanggan Sri tidak hanya datang dari desanya, melainkan juga dari desa tetangga yang rela menerjang lumpur basah demi memesan kue buatannya.

Di dapur minim peralatan itu, dua orang siap membantu Sri memproduksi kue kering yang dipesan jauh-jauh hari. Sri mengaku, ide mengajak sanak saudara muncul karena mereka juga membutuhkan biaya hidup di tengah kondisi yang sulit. Dengan demikian, Sri tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.

“Membantu ini, kita juga kan jadi ada pemasukan buat setidaknya sehari-hari lah, dan tabungan buat Lebaran nanti,” kata Sariani Tambunan, yang merasa sangat terbantu dengan keberanian Sri membuka pesanan.

Produksi kue kering ini dilakukan Sri dan dua saudaranya sejak pagi hingga waktu berbuka puasa. Hingga kunjungan ANTARA, mereka telah menghabiskan 18 kg tepung untuk membuat empat hingga lima jenis kue kering. Sri juga menyebut, harga kue keringnya terjangkau, berkisar antara Rp80.000 hingga Rp160.000 per kilogram. Mereka bisa menerima pesanan hingga 8 kg, jumlah yang sudah dibatasi.

Semangat yang Tak Padam

Sebelum bencana banjir dan longsor menimpa desanya, Sri Kasnita dikenal gemar membuat olahan masakan seperti mie tek-tek, nasi goreng, dan gorengan. Terjangan bencana alam beberapa bulan lalu tidak menghentikan kelihaiannya. Kompor dan penggorengan seolah menjadi komponen penting bagi Sri dan keluarga untuk mendapatkan tambahan rupiah sebagai penyambung hidup.

Meski atap dan tembok rumahnya masih menyisakan jejak keganasan air, Sri tetap berjuang untuk memberikan kebahagiaan bagi anak-anaknya yang masih berusia dini. Semangat menjalani hidup terus menyala pada diri perempuan-perempuan itu, mencari rupiah demi merayakan Lebaran dengan senyum.