Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) menegaskan bahwa peluang karier Aparatur Sipil Negara (ASN) di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sangat terbuka luas. Jabatan fungsional seperti peneliti dan perekayasa menjadi fokus utama dalam penguatan ekosistem riset dan inovasi nasional.

Deputi Bidang SDM Aparatur Kementerian PAN-RB, Aba Subagja, menyampaikan hal tersebut di Jakarta pada Selasa (10/3/2026). Ia menyoroti komposisi ASN di Indonesia yang mencapai sekitar 6,5 juta orang, dengan mayoritas berada pada jabatan fungsional, sementara jabatan struktural hanya sekitar lima persen dari total ASN.

“Artinya peluang karier ASN sebenarnya lebih terbuka luas di jabatan fungsional, termasuk jabatan fungsional di bidang iptek seperti peneliti dan perekayasa,” ujar Aba Subagja.

Menurut Aba, penguatan sumber daya manusia (SDM) iptek, termasuk di bidang nuklir, memerlukan dukungan penataan sistem kepegawaian ASN yang lebih terarah. Jabatan fungsional memegang peran krusial sebagai fondasi utama dalam memperkuat ekosistem riset dan inovasi di lembaga pemerintah.

Di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), misalnya, pengembangan riset dan inovasi sangat bergantung pada keberadaan peneliti dan perekayasa sebagai tulang punggung organisasi. KemenPAN-RB saat ini tengah menata kebutuhan SDM ASN, termasuk menyusun postur ASN di BRIN untuk mencapai komposisi pegawai yang lebih proporsional.

Pendekatan ini memungkinkan perencanaan kebutuhan tenaga ahli pada bidang tertentu, seperti tenaga nuklir, secara lebih sistematis dalam jangka menengah. “Postur ini nanti akan menentukan berapa kebutuhan SDM, misalnya tenaga nuklir. Kalau kebutuhannya seribu, maka akan dikunci dalam grand design pemenuhan SDM selama lima tahun,” jelas Aba.

Selain melalui rekrutmen baru, pengisian kebutuhan SDM juga dapat dilakukan melalui skema mobilitas talenta ASN. Skema ini memanfaatkan pegawai yang memiliki kompetensi relevan untuk berpindah ke bidang atau jabatan yang membutuhkan.

Aba Subagja menggarisbawahi bahwa penguatan manajemen talenta menjadi kunci agar SDM iptek di lembaga pemerintah dapat berkembang dan bertahan dalam jangka panjang. “Talenta-talenta di bidang iptek perlu dikelola dengan baik, mulai dari perencanaan kebutuhan, pengembangan kompetensi, hingga manajemen kariernya,” tegasnya.

Sebagai informasi, BRIN memproyeksikan kebutuhan sekitar 200 peneliti baru di bidang nuklir. Kebutuhan ini bertujuan untuk mendukung pengembangan energi nuklir nasional, termasuk rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama yang ditargetkan beroperasi pada tahun 2032.