Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan bahwa Tokyo akan mengerahkan “segala upaya diplomatik yang mungkin” untuk meredakan ketegangan di sekitar Selat Hormuz. Pernyataan ini disampaikan pada Senin, 23 Maret 2026, di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Takaichi menyampaikan komitmen tersebut kepada parlemen Jepang, merujuk pada kerja sama berkelanjutan dengan komunitas internasional. “Kami terus bekerja sama dengan komunitas internasional dan akan melakukan segala upaya diplomatik yang mungkin,” kata Takaichi, seperti dikutip Kyodo News.

Pernyataan ini muncul setelah pertemuan puncak Takaichi dengan Presiden AS Donald Trump di Washington pekan lalu. Dalam pertemuan tersebut, Presiden Trump menuntut Jepang untuk mengerahkan pasukan angkatan laut guna bergabung dengan operasi militer AS yang bertujuan membuka Selat Hormuz, jalur air vital yang berada di bawah kendali efektif Iran.

Takaichi menjelaskan kepada anggota parlemen bahwa Presiden Trump menekankan “memastikan keamanan Selat Hormuz sangat penting” dan meminta kontribusi dari Jepang serta negara-negara lain terkait keselamatan navigasi. Menanggapi hal tersebut, Takaichi menyatakan, “Saya menjawab dengan mengatakan bahwa saya juga menyadari bahwa memastikan keselamatan navigasi penting dari perspektif pasokan energi yang stabil dan menjelaskan secara rinci apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan dalam lingkup hukum negara kita.”

Konstitusi Jepang yang menolak perang secara tegas tidak mengizinkan negara itu untuk terlibat dalam pertempuran di luar negeri. Namun, keamanan Selat Hormuz sangat krusial bagi Jepang, mengingat hampir 90 persen pasokan energinya melewati jalur air tersebut. Kapal-kapal Jepang pun tetap terdampak oleh situasi ini, mendorong Tokyo untuk mulai melepaskan cadangan minyak strategisnya demi memenuhi permintaan domestik.

Secara terpisah, Kyodo News melaporkan bahwa Tokyo “sedang mempertimbangkan untuk membeli” minyak mentah dari Kazakhstan. Perusahaan eksplorasi minyak dan gas Jepang yang didukung negara, Inpex Corp., yang memegang hak atas minyak mentah di Kazakhstan, “mungkin akan mengalihkan sebagian ke Jepang.”

Meski demikian, pengangkutan minyak mentah dari Kazakhstan ke Jepang diperkirakan akan memakan waktu lebih lama karena jarak yang jauh, dan biaya pengadaannya mungkin juga relatif lebih tinggi. Laporan tersebut menambahkan bahwa Inpex “juga sedang mempertimbangkan untuk berbisnis dengan Azerbaijan dan Australia, di mana mereka juga memegang hak atas minyak mentah dan gas alam.”

Eskalasi regional di Timur Tengah terus meningkat sejak serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Iran membalas dengan melancarkan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Serangan balasan ini menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, sekaligus mengganggu pasar global dan penerbangan.