Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan optimistis bahwa kehadiran International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) di Teluk Ekas, Lombok Timur, akan menjadi solusi krusial untuk mengatasi krisis bibit unggul rumput laut yang selama ini menghambat budidaya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB, Muslim, menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif ini. “Kami sangat mengapresiasi kehadiran laboratorium rumput laut. Selama ini salah satu kendala utama petani adalah keterbatasan bibit berkualitas,” kata Muslim di Mataram, NTB, pada Jumat, 21 Februari 2026.
Sebelumnya, Pemerintah Pusat telah menetapkan Teluk Ekas sebagai lokasi pusat riset rumput laut bertaraf internasional. Fasilitas ITSRC ini dirancang sebagai bagian integral dari strategi nasional untuk memperkuat ekonomi pesisir dan mendorong hilirisasi sektor kelautan di Indonesia.
Peran Strategis ITSRC bagi NTB
Muslim menambahkan, keberadaan ITSRC tidak hanya berfokus pada penyediaan bibit unggul. Pusat ini juga diharapkan berfungsi sebagai sentra penelitian, pendidikan, dan pelatihan bagi masyarakat serta pemangku kepentingan dalam pengembangan rumput laut di NTB.
Ia meyakini, ITSRC akan mempercepat peningkatan produktivitas serta kesejahteraan masyarakat pesisir melalui kolaborasi riset, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan transfer teknologi. “Melalui kehadiran ITSRC, kami optimistis Teluk Ekas berkembang sebagai pusat inovasi rumput laut tropis dunia sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi pesisir yang berkelanjutan di NTB,” ucap Muslim.
Indonesia sebagai Pusat Rumput Laut Dunia
Indonesia saat ini merupakan produsen rumput laut tropis terbesar di dunia, menguasai sekitar 75 persen pasar global. Nilai ekonomi rumput laut dunia diperkirakan mencapai 12 miliar dolar AS per tahun dan diproyeksikan akan terus meningkat di masa mendatang.
Pemerintah Pusat merancang ITSRC sebagai simpul kolaborasi nasional dan internasional. Pusat ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern, termasuk laboratorium penelitian, asrama peneliti, dan sarana pendukung lainnya untuk menunjang pengembangan riset rumput laut tropis secara komprehensif.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menegaskan bahwa penguatan riset rumput laut merupakan langkah strategis untuk mewujudkan ambisi Indonesia sebagai pusat rumput laut dunia.
