Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menegaskan bahwa tidak ada solusi militer untuk krisis politik yang sedang berlangsung. Ia juga secara tegas memperingatkan Amerika Serikat (AS) dan Uni Emirat Arab (UEA) agar tidak meningkatkan eskalasi lebih lanjut di Selat Hormuz.

Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi melalui platform X pada Selasa, 5 Mei 2026. “Peristiwa di Hormuz memperjelas bahwa tidak ada solusi militer untuk krisis politik. Dengan adanya pembicaraan yang mengalami kemajuan lewat upaya baik Pakistan, Amerika harus waspada agar tidak terseret kembali ke dalam kubangan oleh pihak-pihak yang berniat buruk; begitu pula UEA,” kata Araghchi.

Araghchi juga menolak rencana Washington yang disebut “Proyek Kebebasan” (Project Freedom), sebuah inisiatif untuk mengawal kapal dagang keluar dari Selat Hormuz. Menurutnya, proyek tersebut merupakan “proyek buntu” yang tidak akan menyelesaikan masalah.

Serangan Balasan Iran dan Ketegangan Regional

Peringatan dari Iran ini muncul setelah Teheran melancarkan serangan balasan pada Senin, 4 Mei 2026, dengan menargetkan UEA. Serangan rudal dan drone yang diperbarui tersebut menandai insiden pertama sejak gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat berlaku bulan lalu.

UEA kemudian melaporkan peluncuran gelombang keempat rudal dan drone dari Iran. Sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat 15 rudal dan empat pesawat nirawak. Selain itu, kebakaran juga terjadi di Zona Industri Minyak Fujairah, pusat energi utama di pantai timur UEA, setelah dihantam oleh pesawat nirawak yang diluncurkan dari Iran.

Ketegangan regional memang telah meningkat signifikan sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Insiden tersebut memicu pembalasan dari Teheran terhadap Israel dan sekutu AS di Teluk, bersamaan dengan penutupan Selat Hormuz.

Gencatan Senjata yang Rapuh

Kedua pihak sempat menyepakati gencatan senjata sejak 8 April lalu melalui mediasi Pakistan. Namun, pembicaraan yang diadakan di Islamabad tersebut gagal menghasilkan kesepakatan yang langgeng. Gencatan senjata itu kemudian diperpanjang oleh Presiden AS Donald Trump tanpa batas waktu yang ditetapkan, namun insiden terbaru menunjukkan kerapuhan kesepakatan tersebut.