Morowali, Sulteng – PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) terus menunjukkan komitmennya dalam pembangunan berkelanjutan dengan mengintegrasikan prinsip sosial dalam program pemberdayaan masyarakat. Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan tata kelola yang bertanggung jawab dengan menempatkan masyarakat sebagai bagian integral dari strategi keberlanjutan kawasan industri, termasuk dalam upaya memperkuat kemandirian ekonomi petani lokal di Morowali.

Head of Department CSR PT IMIP, Tommy Adi Prayogo, menjelaskan bahwa penguatan ekonomi petani lokal merupakan langkah strategis untuk mengurangi kesenjangan sosial dan menciptakan hubungan yang lebih inklusif antara industri dan komunitas. Sejak tahun 2022, tim CSR IMIP secara intensif memberikan pembinaan berkelanjutan kepada para petani. Pembinaan tersebut meliputi teknik budi daya, manajemen kelompok, hingga pemenuhan standar kualitas yang sesuai dengan kebutuhan Central Kitchen di kawasan industri.

“Pendekatan ini juga menyentuh aspek lingkungan dengan mendorong praktik pertanian yang terencana dan efisien. Program ini dapat meningkatkan kualitas hasil tani yang ramah lingkungan. Integrasi petani ke dalam rantai pasok industri menghadirkan transparansi dan kepastian pasar,” jelas Tommy Adi Prayogo pada Senin (04/05/2026).

Pola kemitraan yang terstruktur ini membantu petani memahami standar, kontrak, serta mekanisme distribusi yang lebih profesional. Dengan demikian, ketergantungan pada pasar tradisional yang fluktuatif dapat berkurang secara signifikan.

Implementasi program ini telah membuahkan hasil konkret dengan bergabungnya dua kelompok tani sebagai pemasok di IMIP, yaitu Kelompok Tani Berkah Mombula dan Kelompok Tani Sukamaju. Sebelumnya, pada tahun 2023, IMIP telah melakukan pendampingan kelompok tani lokal melalui bantuan sarana, prasarana, dan penguatan akses pasar. Dengan menjadi pemasok bahan pangan ke IMIP, serapan hasil pertanian dan nilai ekonomi yang berkelanjutan bagi petani dapat terjamin.

Keunggulan program ini terletak pada pendekatan holistik yang mendorong peningkatan produktivitas, pendapatan, dan kemandirian petani di sekitar kawasan industri. Tommy Adi Prayogo merinci capaian kedua kelompok tani tersebut:

  • Kelompok Tani Berkah Mombula: Dengan 12 anggotanya, kelompok ini mulai menjadi pemasok Central Kitchen PT IMIP sejak tahun 2023 dengan intensitas pengiriman empat hingga lima kali per bulan. Total 40,28 ton komoditas hortikultura seperti cabai, sayuran hijau, dan tomat telah disuplai. Dari sisi ekonomi, pendapatan kelompok ini menunjukkan perkembangan dinamis: Rp79,58 juta pada 2023, sempat turun menjadi Rp33,93 juta pada 2024, lalu melonjak drastis menjadi Rp485,47 juta pada 2025. Fluktuasi ini menggambarkan fase adaptasi sebelum mencapai skala optimal.
  • Kelompok Tani Sukamaju: Memiliki 23 anggota, kelompok ini mulai memasok sejak April 2025 dengan intensitas dua hingga tiga kali tiap bulan. Mereka mencatat total serapan 30,31 ton komoditas dengan pendapatan sebesar Rp311,79 juta pada tahun 2025. Nominal ini menunjukkan bahwa akses pasar terintegrasi mampu menciptakan dampak ekonomi yang cepat bagi kelompok tani yang baru bergabung.

Pihak IMIP memastikan keberlanjutan praktik pertanian yang benar-benar ramah lingkungan, memperluas inklusi ke lebih banyak kelompok masyarakat, serta memperkuat sistem tata kelola agar tetap transparan dan akuntabel dalam jangka panjang.

“Ke depan, IMIP menargetkan penguatan program melalui perluasan jumlah kelompok tani binaan. Kami berharap agar kawasan industri dapat menjadi katalis bagi transformasi ekonomi lokal yang lebih inklusif,” tutup Tommy Adi Prayogo.