TEGAL – Presenter dan motivator kondang, Helmy Yahya, menekankan pentingnya kualitas kepemimpinan sebagai faktor utama penentu kemajuan suatu negara, perusahaan, maupun individu. Hal tersebut disampaikan Helmy dalam orasi ilmiahnya pada Wisuda ke-1 Universitas Harkat Negeri (UHN) Tegal yang berlangsung di Sebayu Convention Hall, Bahari Inn Hotel Tegal, Kamis (7/5).
Dalam kesempatan tersebut, Helmy Yahya memberikan inspirasi kepada para wisudawan mengenai peran krusial kepemimpinan, pendidikan, dan kemampuan beradaptasi di tengah dinamika perubahan global yang begitu cepat.
Kepemimpinan dan Adaptasi di Era Perubahan
Menurut Helmy, transformasi besar hanya dapat terwujud apabila dipimpin oleh sosok yang memiliki visi kuat dan keberanian untuk melakukan perubahan. Ia mengutip pernyataan ilmuwan terkemuka Stephen Hawking.
“Kecerdasan adalah kemampuan untuk beradaptasi dan berubah,” ujar Helmy Yahya, mengutip Hawking, melalui rilis dari Humas UHN Tegal, Kamis (7/5). Pesan ini dinilai sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini yang terus mengalami pergeseran cepat di berbagai sektor.
Helmy Yahya juga menyoroti stigma negatif yang kerap melekat pada Generasi Z di dunia kerja. Namun, ia justru meyakini bahwa Gen Z adalah generasi yang hebat dan memiliki karakter adaptif yang berbeda dari generasi sebelumnya.
“Gen Z sering dianggap aneh, sering dibully, dianggap tidak bisa bekerja. Mari lawan anggapan itu. Gen Z adalah generasi yang lebih hebat dan lebih adaptif,” papar Helmy Yahya, memberikan semangat kepada para wisudawan.
Peran Sentral Pemimpin dalam Membentuk Budaya
Helmy Yahya menjelaskan bahwa kepemimpinan memiliki peran besar dalam menentukan keberhasilan suatu organisasi maupun negara. Pemimpin tertinggi, lanjutnya, akan membentuk budaya kerja atau corporate culture yang menjadi fondasi kemajuan.
Ia juga mengangkat sejumlah contoh pemimpin dunia yang berhasil membawa perubahan signifikan bagi negaranya melalui fokus pada pendidikan dan kebijakan yang kuat. Salah satunya adalah Malaysia di era Mahathir Mohamad yang sukses meningkatkan kualitas pendidikan hingga melampaui Indonesia, padahal dahulu Indonesia banyak mengirim tenaga pengajar ke sana.
“Juga Jepang pascatragedi bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Saat itu, Kaisar Hirohito disebut lebih dahulu menanyakan jumlah guru yang tersisa sebagai langkah awal membangun kembali Jepang melalui pendidikan,” terang Helmy Yahya.
Selain itu, Helmy juga menyoroti kebijakan mantan Perdana Menteri Tiongkok, Zhu Rongji, yang dikenal tegas dalam memberantas korupsi. Konsistensi kepemimpinan seperti ini, menurutnya, menjadi salah satu faktor penting yang membuat Tiongkok tumbuh menjadi kekuatan ekonomi dunia.
Ajak Wisudawan Berinovasi dan Berbakti
Di akhir orasinya, Helmy Yahya mengajak seluruh wisudawan Universitas Harkat Negeri untuk turut serta membangun Indonesia melalui inovasi dan tindakan nyata.
“Jangan pernah kehilangan harapan. Saatnya kita speak up, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan perbuatan. Ayo kita bikin inovasi dari Tegal dan sekitarnya,” pesannya penuh semangat.
Ia juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada para orang tua atas dukungan dan perjuangan yang telah diberikan kepada para wisudawan hingga berhasil menyelesaikan pendidikan.
Mengakhiri orasinya, Helmy Yahya membagikan tiga investasi yang menurutnya pasti memberikan keuntungan dalam kehidupan, yaitu investasi dalam ilmu, kebajikan, dan berbakti kepada orang tua, terutama ibu.
“Semua orang sukses hubungannya dengan ibu bagus. Karena itu sangat penting,” pungkasnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said, menyampaikan bahwa wisuda memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar penyerahan ijazah. Ia adalah simbol kepercayaan.
“Wisuda menjadi awal dari pengabdian yang sesungguhnya. Awal dari ujian yang lebih nyata. Awal dari dunia yang menuntut bukan hanya kecerdasan, melainkan juga integritas, bukan hanya pengetahuan, tetapi juga kebijaksanaan, bukan hanya gelar, tetapi juga keberanian untuk memberi manfaat,” ujar Sudirman Said, yang juga mantan Menteri ESDM.
