Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mendesak Amerika Serikat dan Iran untuk segera membuka Selat Hormuz. Seruan ini disampaikan Guterres dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB mengenai keamanan maritim pada Senin, 27 April 2026, di Markas PBB.
Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, menyampaikan pesan Guterres kepada wartawan. “Sekjen Guterres mendesak semua pihak agar membuka Selat Hormuz, kemudian mengizinkan kapal-kapal lewat tanpa pungutan dan tanpa diskriminasi. Biarkan perdagangan pulih dan ekonomi global bernapas, kata beliau,” ujar Dujarric.
Guterres memperingatkan bahwa pelayaran komersial kini telah dijadikan pion untuk memberi tekanan kepada pihak lain, yang berakibat pada terkikisnya kebebasan dan hak maritim fundamental. Dujarric menambahkan, Sekjen PBB juga menyoroti bahwa blokade Selat Hormuz saat ini telah menyebabkan gangguan rantai pasok terburuk sejak pandemi COVID-19 dan konflik di Ukraina.
“Gangguan berkepanjangan berisiko memicu darurat pangan global yang menyebabkan jutaan orang, khususnya di Afrika dan Asia Selatan, terancam kelaparan dan kemiskinan, kata Sekjen Guterres,” jelas Dujarric, mengutip pernyataan Guterres.
Sebagai konteks, Angkatan Laut AS mulai memblokade lalu lintas pelayaran yang masuk dan keluar dari pelabuhan-pelabuhan di Iran di Selat Hormuz sejak 13 April. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur distribusi vital bagi 20 persen pasokan minyak mentah, produk minyak, dan LNG global.
Washington menyatakan bahwa semua kapal yang bukan milik Iran bebas berlayar di Selat Hormuz selama mereka tidak membayar bea apapun kepada Teheran. Meskipun demikian, otoritas Iran belum mengumumkan rencana apapun untuk memberlakukan pungutan melintasi Selat Hormuz, meskipun langkah tersebut sempat dipertimbangkan sebelumnya.
