Aktivitas vulkanik Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, masih menunjukkan peningkatan signifikan. Dalam periode pengamatan 24 jam pada Minggu, 8 Maret 2026, gunung api setinggi 1.423 meter di atas permukaan laut itu tercatat meletus sebanyak 130 kali.

Petugas Pos Pemantau Gunung Ili Lewotolok, Yeremias Kristianto Pugel, melaporkan bahwa letusan-letusan tersebut menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 100 meter dari puncak kawah. Asap yang keluar bervariasi dari putih hingga kelabu.

“Teramati 130 kali letusan dengan tinggi sekitar 100 meter dari puncak kawah dengan warna asap putih dan kelabu,” jelas Yeremias dalam laporan resminya yang dikutip pada Senin, 9 Maret 2026.

Secara visual, kondisi gunung tampak jelas, meskipun terkadang tertutup kabut tipis. Asap kawah juga teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang, mencapai ketinggian sekitar 50 meter di atas puncak.

Selain letusan, pengamatan juga mencatat adanya aliran lava yang bergerak sejauh sekitar 500 meter dari bibir kawah. Aliran lava ini terpantau mengarah ke sektor selatan dan tenggara Gunung Ili Lewotolok.

Dari sisi kegempaan, tercatat 130 kali gempa letusan dengan amplitudo 14–36,6 milimeter dan durasi 35–63 detik. Selain itu, terjadi 231 kali gempa hembusan dengan amplitudo 1,3–10,1 milimeter dan durasi 20–42 detik.

Petugas juga mendeteksi dua kali tremor non-harmonik dengan amplitudo 2,3–7,4 milimeter, serta dua kali gempa vulkanik dalam dengan amplitudo 3,3–3,9 milimeter. Kondisi cuaca di sekitar gunung bervariasi antara cerah, berawan, hingga hujan, dengan angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan suhu udara 24-29 derajat Celsius.

Meskipun aktivitasnya tinggi, status Gunung Ili Lewotolok saat ini tetap berada pada Level II atau Waspada. Masyarakat dan pengunjung diimbau untuk tidak memasuki wilayah dalam radius dua kilometer dari pusat aktivitas gunung.

Warga juga diminta mewaspadai potensi guguran lava dan awan panas yang dapat terjadi di sektor selatan, tenggara, barat, dan timur laut gunung. Untuk melindungi diri dari paparan abu vulkanik, masyarakat di sekitar gunung dianjurkan menggunakan masker pelindung mulut dan hidung, serta perlengkapan lain untuk mata dan kulit. Penampungan air bersih juga disarankan untuk ditutup agar tidak terkontaminasi.

Pemerintah daerah dan masyarakat diharapkan terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Ili Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape, serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk mendapatkan informasi terkini mengenai aktivitas gunung.