Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik signifikan pada Minggu (25/5) malam. Badan Geologi mengonfirmasi fenomena ini, meskipun status gunung api tersebut masih berada pada Level II atau Waspada.
Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa peningkatan aktivitas ditandai dengan rentetan gempa drumbeat vulkanik hybrid/Fase Banyak yang terekam mulai pukul 19.00 Wita.
“Drumbeat gempa vulkanik hybrid/Fase Banyak berlangsung lebih dari 1 jam dengan interval antargempa relatif sama, kemudian perlahan meregang dan akhirnya menghilang,” ujar Lana Saria dalam keterangan tertulis pada Selasa (26/5).
Peningkatan Kegempaan dan Pengamatan Visual
Gunung Ili Lewotolok telah berstatus Level II (Waspada) sejak 24 Februari 2026, dengan peningkatan aktivitas kegempaan juga sempat terjadi pada April 2026. Berdasarkan hasil pemantauan periode 1-24 Mei 2026, tercatat 179 gempa erupsi, 972 gempa hembusan, 17 gempa guguran, lima gempa hybrid, 14 gempa vulkanik dangkal, dan 69 gempa vulkanik dalam.
Namun, pada 25 Mei 2026, aktivitas kegempaan meningkat tajam dengan tercatat 91 kali gempa Hybrid/Fase Banyak, 56 gempa hembusan, empat gempa erupsi, serta tujuh gempa vulkanik dalam. Lana menambahkan, Badan Geologi juga mencatat kenaikan tajam energi seismik berdasarkan metode Real-time Seismic Amplitude Measurements (RSAM) saat drumbeat gempa hybrid terjadi.
“Hasil pengamatan visual dari Pos PGA Ile Lewotolok menunjukkan belum adanya anomali signifikan di puncak gunung. Secara visual, gunung terlihat jelas hingga tertutup kabut, dengan asap kawah berwarna putih hingga kelabu setinggi 5-200 meter dari puncak,” katanya.
Kolom erupsi terpantau mencapai ketinggian 50-300 meter dari puncak berwarna putih hingga kelabu. Selain itu, terjadi guguran material, namun arah dan jarak luncurannya belum dapat diamati secara visual.
Imbauan Kewaspadaan untuk Masyarakat
Merespons peningkatan aktivitas ini, masyarakat, pendaki, maupun wisatawan diimbau untuk tidak memasuki radius dua kilometer dari pusat aktivitas Gunung Ili Lewotolok. Mereka juga diminta mewaspadai potensi guguran lava dan awan panas di sektor selatan, tenggara, barat, serta timur laut gunung api tersebut.
Selain itu, masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan gunung dianjurkan menggunakan masker dan pelindung mata guna menghindari dampak abu vulkanik terhadap kesehatan, termasuk gangguan pernapasan.
