Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, tercatat meletus sebanyak 39 kali sepanjang Minggu (22/2/2026). Aktivitas vulkanik intens ini terpantau dari Pos Pengamatan Gunung Api setempat, dengan status gunung yang masih berada pada Level III atau Siaga.
Petugas Pos Pengamat Gunung Lewotolok, Syawaludin, menegaskan bahwa gunung dengan ketinggian 1.423 meter di atas permukaan laut tersebut masih dalam kondisi Siaga. “Sepanjang periode pengamatan, cuaca di sekitar gunung terpantau berawan hingga mendung, dengan angin bertiup lemah sampai sedang ke arah timur dan suhu udara berkisar antara 25 hingga 27 derajat Celsius,” ujar Syawaludin dalam keterangan tertulisnya, Minggu malam.
Secara visual, gunung kadang terlihat jelas hingga tertutup kabut tipis. Meskipun asap kawah tidak teramati secara signifikan, 39 letusan yang terjadi menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 200 meter dengan warna kelabu. Suara gemuruh lemah juga terdengar menyertai setiap aktivitas erupsi.
Data kegempaan menunjukkan aktivitas letusan memiliki amplitudo antara 9,9 hingga 33,8 milimeter dengan durasi 46 sampai 79 detik. Selain itu, terekam 42 kali hembusan dengan amplitudo 2,3 hingga 9,1 milimeter dan durasi 28 sampai 39 detik. Satu kali gempa vulkanik dalam juga tercatat dengan amplitudo 5,1 milimeter, selisih waktu S-P 0,3 detik, dan durasi 13 detik.
Menyikapi peningkatan aktivitas ini, masyarakat di sekitar Gunung Ile Lewotolok, serta pengunjung, pendaki, dan wisatawan, diimbau untuk tidak memasuki dan tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung. Kewaspadaan juga ditingkatkan terhadap potensi guguran atau longsoran lava dan awan panas, khususnya di sektor selatan, tenggara, barat, serta timur laut gunung.
Pemerintah daerah dan otoritas terkait juga menyarankan masyarakat yang bermukim di sekitar gunung untuk menggunakan masker pelindung mulut dan hidung, serta perlengkapan lain guna melindungi mata dan kulit dari paparan abu vulkanik. Langkah ini krusial untuk mencegah gangguan pernapasan seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan dampak kesehatan lainnya. Selain itu, penutupan tempat penampungan air bersih juga penting dilakukan agar tidak terkontaminasi abu.
