Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal memimpin rapat koordinasi bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) NTB pada Senin (16/3/2026). Rapat ini digelar untuk memastikan perayaan Hari Raya Nyepi umat Hindu dan Hari Raya Idul Fitri umat Islam, yang waktunya berdekatan, berjalan aman, tertib, serta mencerminkan kuatnya tradisi toleransi masyarakat NTB.
Pertemuan yang berlangsung di Ruang Rapat Sangkareang Kantor Gubernur NTB tersebut dihadiri oleh Wakapolda NTB, Kabinda NTB, perwakilan Korem 162/WB, Lanal Mataram, Lanud ZAM, Ketua FKUB NTB, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia NTB, Kapolresta Mataram, Asisten I Setda Kota Mataram, serta sejumlah perangkat daerah terkait.
Gubernur Tekankan Pentingnya Toleransi Nyata
Dalam arahannya, Gubernur Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa situasi keamanan dan kerukunan di NTB secara umum kondusif. Namun, langkah antisipatif tetap diperlukan mengingat dinamika di daerah lain dapat memengaruhi psikologi masyarakat.
“NTB sejak lama dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi toleransi. Kita ingin memastikan bahwa perayaan dua hari besar keagamaan ini justru menjadi momentum untuk menunjukkan wajah kerukunan dan kebersamaan masyarakat NTB,” ujar Gubernur.
Menurutnya, pengamanan dan pengelolaan kegiatan keagamaan merupakan tanggung jawab bersama seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh agama, hingga masyarakat.
Gubernur Miq Iqbal juga menekankan pentingnya menghadirkan contoh nyata toleransi dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan. Salah satu kesepakatan penting adalah penghentian sementara musik atau sound system pawai ogoh-ogoh ketika waktu azan tiba, sebagai bentuk penghormatan kepada umat Islam yang sedang menunaikan ibadah.
Sebaliknya, peserta pawai takbiran diimbau untuk tidak menggunakan pengeras suara secara berlebihan saat melintasi kawasan permukiman umat Hindu yang sedang menjalankan Catur Brata Penyepian.
“Kita ingin toleransi itu tidak hanya menjadi slogan, tetapi terlihat nyata dalam kehidupan masyarakat,” tegasnya.
Jadwal Perayaan dan Antisipasi di Media Sosial
Rapat tersebut juga memaparkan jadwal pelaksanaan kegiatan keagamaan:
- 18 Maret: Pawai ogoh-ogoh menjelang Hari Raya Nyepi
- 19 Maret: Hari Raya Nyepi (Catur Brata Penyepian)
- 19 atau 20 Maret malam: Pawai takbiran menjelang Idulfitri
- 20 Maret: Idulfitri bagi warga Muhammadiyah
- 21 Maret: Kemungkinan Idulfitri sesuai hasil sidang isbat Kementerian Agama RI
Mengingat sebagian wilayah di NTB, khususnya di beberapa kawasan Pulau Sumbawa, belum terbiasa dengan tradisi ogoh-ogoh, Gubernur meminta agar dilakukan sosialisasi dan pengamanan yang lebih intensif.
Unsur Forkopimda juga menyoroti munculnya sejumlah narasi di media sosial yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman. Kabinda NTB mengingatkan bahwa narasi terkait perayaan keagamaan di daerah lain dapat memicu sentimen negatif jika tidak disikapi bijak.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Miq Iqbal menekankan pentingnya mengimbangi narasi negatif dengan pesan-pesan toleransi dan kebersamaan. “Saya minta kita semua aktif membangun narasi positif bahwa NTB adalah daerah yang menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi kerukunan antarumat beragama,” ujarnya.
Kesepakatan dan Indeks Kerukunan NTB
Beberapa kesepakatan penting lainnya yang dihasilkan dalam rapat meliputi disiplin waktu pelaksanaan kegiatan, sosialisasi luas kepada masyarakat Hindu dan Muslim, larangan konsumsi minuman keras di ruang publik saat kegiatan ogoh-ogoh, serta penguatan pengawasan di wilayah yang belum terbiasa dengan ogoh-ogoh. Pemerintah daerah juga diminta memastikan ketersediaan dan distribusi BBM serta dukungan pasokan listrik selama rangkaian perayaan keagamaan.
Dalam kesempatan yang sama, FKUB NTB memaparkan data Indeks Kerukunan Umat Beragama di Provinsi NTB yang mencapai angka 73,84, masuk kategori tinggi dan menuju sangat tinggi. Rinciannya:
- Indeks toleransi: 87,44 (sangat tinggi)
- Indeks kesetaraan: 81,19 (tinggi)
- Indeks kebersamaan: 52,88 (masih perlu diperkuat)
Data ini menunjukkan tingkat toleransi masyarakat NTB yang sangat baik, meskipun aspek kebersamaan sosial masih perlu terus ditingkatkan. Gubernur Lalu Muhamad Iqbal meminta agar kesepakatan ini segera ditindaklanjuti dalam bentuk surat edaran dan langkah koordinatif. Ia juga meminta Dinas Komunikasi dan Informatika memperkuat penyebaran pesan-pesan toleransi.
“NTB harus menjadi contoh bagaimana masyarakat yang berbeda agama dapat hidup rukun dan saling menghormati. Ini adalah warisan sosial yang harus terus kita jaga,” pungkasnya.
