Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhammad Iqbal mendorong Koperasi Desa Merah Putih menjadi pemasok utama kebutuhan bahan pangan bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini bertujuan agar perputaran dana triliunan rupiah dari program tersebut dapat dinikmati oleh masyarakat lokal.

“Tidak usah mikir bisnis yang lain, fokus suplai untuk MBG saja, karena ada hampir Rp6 triliun uang yang berputar di MBG,” ujar Iqbal dalam keterangan di Mataram, Kamis (26/2/2026).

Iqbal menjelaskan, program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini membuka peluang besar bagi koperasi desa, khususnya dalam penyediaan bahan pangan berupa telur dan daging ayam. Ia menyoroti bahwa sebelum MBG berjalan, peternak telur di NTB baru mampu memenuhi 30 persen kebutuhan daerah, dengan sisanya 70 persen dipasok dari luar daerah, terutama Pulau Jawa.

“Dengan meningkatnya kebutuhan akibat MBG, pasokan dari luar daerah berpotensi semakin terbatas. Saya meminta pengurus Kopdes Merah Putih fokus menangkap peluang yang ada,” kata Iqbal, menekankan pentingnya kemandirian pangan lokal.

Program MBG sendiri, lanjut Iqbal, memiliki nilai Rp5,7 triliun pada tahun 2026. Angka ini bahkan melebihi nilai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) NTB yang hanya berjumlah Rp5,64 triliun. Pemerintah NTB berkomitmen mendorong penguatan permodalan koperasi melalui skema pembiayaan agar Koperasi Desa Merah Putih dapat menjadi pelaku utama dalam proyek pemberian makan gratis kepada jutaan penerima manfaat.

Untuk mendukung hal tersebut, Bank NTB Syariah selaku Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) telah menyiapkan kredit usaha rakyat (KUR) sebanyak Rp30 miliar. Dana ini dapat dimanfaatkan oleh koperasi dan pelaku UMKM sebagai modal awal pengembangan usaha.

“Skema kredit sedang dirancang, Bank NTB Syariah sudah membuka akses kredit usaha rakyat agar program itu bisa terarah dan tepat sasaran. Apabila proposal bisnis telah rampung, koperasi dapat segera mengajukan pinjaman,” papar Iqbal.

Sementara itu, Ketua Koperasi Desa Tegal Maja di Lombok Utara, Martinom, mengungkapkan tantangan yang dihadapi koperasinya. Saat ini, koperasi yang dipimpinnya baru menjalankan dua jenis usaha, yakni penjualan beras dan gas elpiji. Ia mengakui potensi peternakan di desanya cukup besar, dengan belasan kandang ayam pedaging dan petelur telah berdiri.

Namun, pengembangan usaha masih terkendala permodalan. Selain keterbatasan modal, koperasi juga masih menghadapi persoalan lahan untuk pembangunan gerai. Mereka berharap permasalahan lahan dapat segera terselesaikan agar pembangunan gerai bisa segera direalisasikan dan koperasi lebih optimal menjalankan usaha.

“Dari awal kami sudah melirik potensi MBG, sekiranya dari awal kami diberikan anggaran lunak dalam bentuk uang, kami bisa memberikan prioritas untuk membangun kandang,” pungkas Martinom, menyoroti kebutuhan akan dukungan finansial awal.