Mantan bos tim MotoGP, Francesco Guidotti, menyoroti kontribusi krusial Francesco Bagnaia dalam upaya Ducati mendekati target besar mereka pada musim MotoGP 2026. Komentar ini muncul menyusul awal musim yang kurang meyakinkan bagi pabrikan Borgo Panigale tersebut pada seri pembuka di Buriram, Thailand.
Meski hasil di Thailand jauh dari ekspektasi, Guidotti menilai performa Bagnaia tetap memainkan peran penting dalam proses pengembangan dan menjaga konsistensi tim secara keseluruhan. Pernyataan Guidotti ini memberikan perspektif berbeda di tengah sorotan tajam terhadap performa Ducati di awal musim.
Rekor Podium Ducati Terhenti di Thailand
Balapan pembuka musim 2026 di Chang International Circuit menjadi penanda berakhirnya salah satu rekor impresif Ducati di MotoGP. Untuk pertama kalinya sejak musim 2021, pabrikan asal Italia itu gagal menempatkan satu pun pembalapnya di podium. Rekor 88 balapan beruntun dengan setidaknya satu podium yang telah mereka pegang akhirnya terhenti.
Dominasi kuat dari Aprilia pada akhir pekan balapan di Thailand membuat para pembalap Ducati kesulitan bersaing di barisan depan. Juara dunia bertahan Marc Marquez, yang kini membela Ducati, sempat menjadi pembalap terdepan sebelum mengalami masalah pada ban yang membuatnya kehilangan peluang meraih hasil maksimal. Sementara itu, Fabio Di Giannantonio menjadi pembalap Ducati dengan hasil terbaik setelah finis di posisi keenam dalam balapan utama.
Guidotti: Hasil Thailand “Cukup Normal”
Dalam wawancara dengan media Jerman Speedweek, Guidotti menjelaskan bahwa hasil Ducati di Thailand memang terlihat buruk jika dibandingkan dengan dominasi mereka dalam beberapa musim terakhir. Namun, ia menegaskan bahwa hasil tersebut masih tergolong wajar dalam persaingan MotoGP yang semakin kompetitif.
“Grand Prix Thailand terlihat seperti bencana besar bagi Ducati, tetapi itu hanya jika dibandingkan dengan masa lalu. Secara realistis, hasil seperti itu sebenarnya cukup normal,” kata Guidotti.
Ia kemudian menyoroti Bagnaia sebagai satu-satunya pembalap Ducati yang masih menyisakan tanda tanya dari sisi performa balapan.
“Sejujurnya, Pecco adalah satu-satunya tanda tanya bagi saya di kubu Ducati. Dalam tes musim dingin dia menunjukkan bisa menyamai kecepatan pembalap Ducati lainnya, tetapi di balapan dia belum mampu menunjukkannya tanpa alasan yang jelas,” ujarnya.
Kontribusi Bagnaia pada Target Besar Ducati
Meskipun performanya belum maksimal pada seri pembuka, Guidotti menilai Bagnaia tetap berperan penting dalam membantu Ducati mencapai salah satu target utama mereka musim ini. Menurutnya, Ducati ingin memastikan seluruh pembalap yang menggunakan motor mereka dapat berada pada level performa yang relatif setara.
“Secara keseluruhan dia melakukan pekerjaan yang baik. Memang masih terlalu dini untuk menilai setelah satu Grand Prix, tetapi salah satu target besar adalah membuat semua pembalap Ducati berada pada level yang sama, dan mereka kini semakin mendekati tujuan itu,” jelas Guidotti.
Ia juga menambahkan bahwa Ducati mungkin kehilangan sedikit waktu dalam proses pengembangan selama musim dingin, namun hal tersebut tidak menjadi masalah besar bagi pabrikan Italia tersebut.
Awal Musim Terburuk Bagnaia Sejak 2022
Hasil finis di posisi kesembilan pada sprint race dan balapan utama di Thailand membuat Bagnaia mencatat awal musim terburuknya sejak 2022. Pada musim tersebut, pembalap Italia itu juga mengalami start yang kurang meyakinkan sebelum akhirnya bangkit di paruh kedua musim dan merebut gelar juara dunia MotoGP.
Performa Bagnaia kini kembali berada di bawah sorotan, terutama dari para pengamat dan mantan tokoh MotoGP. Salah satunya adalah mantan manajer tim MotoGP, Livio Suppo, yang menilai Bagnaia masih perlu membuktikan bahwa gelar juara yang pernah ia raih benar-benar berasal dari kemampuannya, bukan hanya karena keunggulan motor Ducati.
Selain performanya musim ini, masa depan Bagnaia juga mulai menjadi topik pembicaraan di paddock MotoGP. Pembalap asal Italia itu disebut-sebut berpotensi bergabung dengan Aprilia pada musim 2027, yang berarti musim 2026 bisa menjadi periode penting untuk menentukan arah kariernya selanjutnya.
Dengan kompetisi yang semakin ketat dan banyaknya talenta muda yang bermunculan, Bagnaia diprediksi akan menghadapi tekanan besar untuk kembali tampil kompetitif dalam perebutan gelar juara dunia MotoGP musim ini.
