Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar pelatihan kecerdasan buatan (AI) bagi sekitar 100 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Brebes. Acara yang berlangsung di Grand Dian Hotel Brebes pada Minggu (3/5/2026) ini bertujuan membekali UMKM agar mampu bertahan dan bersaing di tengah dinamika ekonomi global.

Anggota DPR RI Komisi X, Abdul Fikri Fakih, menyatakan bahwa pelatihan AI ini merupakan respons konkret terhadap kondisi ekonomi global yang belum stabil. Ia menekankan pentingnya memperkuat UMKM lokal sebagai satu-satunya tumpuan ekonomi yang realistis.

“Langkah paling realistis saat ini adalah memperkuat UMKM lokal. Tapi itu harus dilakukan secara bertahap, termasuk mendorong pelaku usaha agar tidak bergantung pada produk impor,” ujar Fikri Faqih.

Fikri menjelaskan, pelatihan ini memang tidak secara langsung menyasar substitusi impor, melainkan fokus pada penguatan kapasitas pelaku usaha digital. Menurutnya, digitalisasi menjadi kunci utama untuk bertahan dan berkembang di era sekarang.

“Melalui pemanfaatan AI dalam pemasaran digital, UMKM dapat menekan biaya promosi yang sebelumnya bergantung pada metode konvensional seperti banner atau iklan ruang publik,” terang Fikri Faqih.

Ia menambahkan, teknologi seperti AI memungkinkan pelaku usaha menjangkau pasar yang lebih luas, bahkan secara spesifik sesuai target konsumen. Namun, Fikri menyadari bahwa tidak semua pelaku UMKM memiliki akses pengetahuan terhadap teknologi tersebut.

“Namun demikian, tidak semua pelaku UMKM memiliki akses pengetahuan terhadap teknologi tersebut. Karena itu, kolaborasi dengan BRIN menjadi penting untuk menghadirkan pendampingan berkelanjutan,” jelas Fikri Faqih.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dari Daerah Pemilihan (Dapil) IX Jawa Tengah ini menegaskan komitmen untuk terus melanjutkan program pendampingan serupa di berbagai daerah.

“Kami bersama BRIN akan terus melakukan pendampingan di berbagai daerah,” jelasnya, seraya menambahkan bahwa transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

“Bagi pelaku UMKM Brebes, AI kini bukan sekadar istilah, tetapi peluang nyata untuk naik kelas dan bersaing di pasar yang semakin kompetitif,” tegas Fikri Faqih.

Senada, Tim Layanan Produksi BRIN, Haryanto, menyoroti urgensi transformasi promosi bagi pelaku usaha yang selama ini masih menggunakan cara-cara konvensional. Ia mendorong agar pelaku usaha mulai memaksimalkan kanal digital secara lebih efisien untuk menekan biaya operasional.

“Proses promosi yang selama ini konvensional harus beralih ke online. Namun, memang ada biaya, waktu, dan tenaga yang harus dikeluarkan untuk bisa bersaing di platform besar,” ujar Haryanto.

Haryanto berharap, di tengah persaingan bisnis yang semakin sengit, penggunaan alat bantu AI mampu menjadi alat bagi pelaku usaha lokal untuk naik kelas. “Sekaligus menjadi benteng pertahanan ekonomi di tengah badai kenaikan tarif marketplace dan tekanan ekonomi makro,” jelas Haryanto.