Menteri Kebudayaan Fadli Zon gencar melobi dukungan internasional di Prancis untuk pencalonan Indonesia sebagai anggota Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO periode 2026–2030. Upaya diplomatik ini dilakukan dalam serangkaian pertemuan dengan para duta besar dan delegasi tetap negara-negara anggota Grup Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di UNESCO.
Dalam kunjungan kerjanya, Menbud Fadli Zon didampingi Duta Besar RI untuk Prancis Mohamad Oemar. Pertemuan tersebut menjadi platform utama untuk mengampanyekan visi dan komitmen Indonesia dalam pelestarian warisan budaya takbenda dunia.
Indonesia Siap Berkontribusi Aktif dalam Pelestarian Budaya Global
Fadli Zon menegaskan pentingnya pertemuan ini sebagai momentum strategis. “Pertemuan ini menjadi kesempatan penting untuk mengampanyekan sekaligus meminta dukungan bagi pencalonan Indonesia sebagai anggota Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the ICH UNESCO periode 2026–2030,” ujar Fadli Zon melalui rilis pers yang diterima di Jakarta, Minggu (26/4/2026).
Dalam diskusi dengan perwakilan negara-negara OKI, Indonesia menyatakan kesiapannya untuk mengambil peran yang lebih besar. “Kami menegaskan kesiapan Indonesia untuk berkontribusi lebih aktif dalam pelestarian warisan budaya takbenda dunia, termasuk melalui penguatan pelindungan berbasis komunitas dan perluasan kerja sama antarnegara anggota OKI,” jelas Menbud.
Pembentukan Kementerian Kebudayaan sebagai entitas mandiri di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto juga disampaikan sebagai bukti keseriusan pemerintah Indonesia. “Kami turut menyampaikan bahwa Indonesia kini memiliki Kementerian Kebudayaan yang berdiri sendiri, sehingga membuka ruang yang lebih luas bagi penguatan kerja sama bilateral di bidang kebudayaan dengan negara-negara OKI,” kata Fadli Zon.
Sinergi Negara Muslim untuk Visibilitas Budaya Islam
Selain fokus pada pencalonan komite, dialog diplomatik tersebut juga membahas upaya kolektif untuk meningkatkan visibilitas seni dan budaya Islam di panggung global melalui kerangka UNESCO. Hal ini dapat dicapai melalui nominasi bersama maupun program pelestarian terpadu.
Menteri Kebudayaan menekankan pentingnya sinergi antarnegara Muslim dalam konteks ini. Pertemuan tersebut turut membahas pentingnya memperluas visibilitas seni dan budaya Islam di UNESCO, serta mendorong lebih banyak kolaborasi dalam pelestarian budaya Islam.
Fadli Zon berharap solidaritas negara-negara OKI dapat menjadi kekuatan utama dalam menjadikan budaya sebagai instrumen perdamaian dunia. “Saya harap pertemuan ini semakin memperkuat solidaritas dan kerja sama negara-negara OKI dalam pelestarian warisan budaya, sekaligus mempertegas komitmen Indonesia dalam menjadikan budaya sebagai jembatan diplomasi, persahabatan, dan kontribusi bagi perdamaian global,” imbuhnya.
Pertemuan penting ini dihadiri oleh sejumlah delegasi dan duta besar, antara lain Palestina (Amb. Adel Atieh), Iran (Amb. Ahmad Pakatchi), Bangladesh (Amb. Khondker Mohammad Talha), Malaysia (Amb. Hazreen Bin Abdul), Uzbekistan (Amb. Kamol Mukhtarov), dan Brunei Darussalam (Azmi Mohamad).
