Pemerintah China secara resmi memperluas kebijakan bebas tarif impor bagi 53 negara di Benua Afrika yang memiliki hubungan diplomatik dengannya, berlaku mulai Jumat (1/5/2026). Langkah ini bertujuan untuk memperkuat hubungan perdagangan dan mendukung pengembangan industri di seluruh benua.

Berdasarkan kebijakan baru tersebut, tarif impor telah dihapus untuk produk-produk dari negara-negara berkembang seperti Kenya, Mesir, dan Nigeria. Inisiatif ini merupakan kelanjutan dari langkah-langkah sebelumnya yang telah memberikan pembebasan tarif penuh kepada 33 negara kurang berkembang di Afrika.

Pengiriman pertama yang merasakan manfaat dari kebijakan yang diperluas ini adalah 24 ton apel dari Afrika Selatan. Komoditas tersebut telah melewati bea cukai di Shenzhen pada Jumat (1/5/2026), menandai dimulainya akses pasar yang lebih luas bagi barang-barang Afrika.

Otoritas perdagangan China menyatakan bahwa kebijakan ini akan memberikan keunggulan kompetitif bagi ekspor Afrika, mulai dari kakao dan kopi hingga jeruk dan anggur, di pasar China. Sebelumnya, produk-produk tersebut menghadapi tarif antara 8 hingga 30 persen.

Para pejabat juga memproyeksikan bahwa kebijakan ini akan mendorong investasi di sektor industri pengolahan di Afrika. Hal ini diharapkan dapat membantu menggeser perekonomian benua tersebut agar tidak hanya bergantung pada ekspor bahan mentah.

China tetap menjadi mitra dagang terbesar Afrika, dengan total perdagangan China-Afrika mencapai rekor tertinggi sebesar 348 miliar dolar AS pada tahun 2025. Dari jumlah tersebut, impor China dari Afrika tercatat sebesar 123 miliar dolar AS, menunjukkan peningkatan 5,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pengecualian tarif baru ini sejalan dengan upaya China yang lebih luas untuk memperdalam keterbukatan ekonominya. Dalam kerangka Rencana Lima Tahun ke-15, Beijing bertekad untuk lebih membuka pasarnya sekaligus membangun lingkungan bisnis yang transparan, stabil, dan dapat diprediksi.

Pemerintah China juga berkomitmen untuk meningkatkan kualitas dan cakupan kerja sama perdagangan serta investasi hingga tahun 2030.