Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa negaranya tidak lagi membutuhkan bantuan dari negara-negara anggota NATO untuk mengamankan Selat Hormuz. Pernyataan ini disampaikan di tengah eskalasi konflik antara Washington dan Teheran.
“Amerika Serikat telah diberi tahu oleh sebagian besar ‘sekutu’ kami di NATO bahwa mereka tak ingin terlibat dalam operasi militer kami melawan rezim Iran,” kata Trump melalui platform Truth Social pada Selasa (17/3).
Trump melanjutkan, “Karena keberhasilan militer yang telah kami capai, kami tidak lagi membutuhkan atau menginginkan bantuan negara-negara NATO — kami memang tak pernah membutuhkannya.” Pernyataan ini menegaskan posisi AS yang merasa mampu bertindak mandiri dalam menjaga keamanan jalur pelayaran vital tersebut.
Latar Belakang dan Respons Sekutu
Sebelumnya, Trump pernah meminta sejumlah negara seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz guna mengamankan salah satu jalur pelayaran terpenting dunia bagi perdagangan minyak global. Namun, ia mengaku tidak yakin para sekutu di NATO bersedia membela AS, berbeda dengan komitmen AS terhadap aliansi pertahanan tersebut.
Menteri Luar Negeri Kanada, Anita Anand, sebelumnya juga menyatakan bahwa negaranya tidak mengetahui adanya permintaan resmi dari AS agar negara-negara NATO bergabung dalam operasi melawan Iran atau membantu menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Eskalasi Konflik di Selat Hormuz
Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz sempat hampir terhenti setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang mengakibatkan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang Israel dan target-target militer AS di seluruh Timur Tengah, memperparah ketegangan di kawasan tersebut.
Menanggapi situasi ini, Perwakilan Tetap Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, pekan lalu menegaskan bahwa Iran tidak bermaksud menutup Selat Hormuz. Namun, ia menekankan bahwa Iran memiliki hak untuk menjaga keamanan di jalur pelayaran strategis tersebut. Selat Hormuz sendiri memiliki kepentingan global yang sangat besar, menangani sekitar 20 persen perdagangan energi dunia.
Sebuah kapal komersial terlihat berlabuh di lepas pantai Uni Emirat Arab, di Selat Hormuz, Dubai pada 2 Maret 2026. Peningkatan lalu lintas maritim menyebabkan penumpukan kapal yang menunggu di dekat Dubai, menyoroti pentingnya strategis selat tersebut.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
