Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Jumat (1/5) menyatakan bahwa AS akan mengambil alih Kuba “dalam waktu sekejap” jika ia kembali menjabat. Pernyataan kontroversial ini disampaikannya dalam sebuah acara di Florida, di mana ia juga mengisyaratkan kemungkinan pengerahan kapal induk di lepas pantai untuk memaksa negara pulau tersebut menyerah.

“Kuba akan kami ambil alih dalam waktu sangat cepat,” kata Trump, seraya mengeklaim bahwa “rakyat Kuba menghadapi berbagai masalah.” Ia mengindikasikan langkah tersebut akan menyusul perang AS-Israel terhadap Iran, dengan menyebut Washington akan mengerahkan kapal angkatan laut dalam perjalanan kembali ke AS.

“Dalam perjalanan pulang dari Iran, kami akan mengerahkan salah satu kapal besar kami, mungkin kapal induk USS Abraham Lincoln, yang terbesar di dunia, kami akan membuatnya datang dan berhenti sekitar 100 yard dari lepas pantai,” ujarnya.

Trump menyiratkan bahwa unjuk kekuatan tersebut saja akan membuat Kuba menyerah. “Mereka akan berkata ‘terima kasih banyak. Kami menyerah,’” katanya, menambahkan, “Saya suka menyelesaikan pekerjaan.”

Pada hari yang sama, Trump juga menandatangani perintah eksekutif yang memberlakukan sanksi baru terhadap individu dan entitas yang terkait dengan Kuba. Kebijakan ini didasari kekhawatiran terhadap ancaman keamanan nasional dan kebijakan luar negeri AS.

Ia berulang kali menyatakan bahwa Kuba adalah “berikutnya” setelah operasi militer terhadap Iran dan bahwa negara Karibia tersebut akan gagal “dalam waktu dekat.”

Pernyataan Trump ini muncul di tengah kondisi sulit yang dihadapi warga Kuba. Arsip foto pada 2 April 2026 menunjukkan warga menaiki becak listrik dan sepeda selama pawai anti-imperialisme, di tengah kekurangan yang terus berlanjut dan pemadaman listrik yang berkepanjangan.

Pulau tersebut menghadapi tekanan ekonomi yang semakin dalam di bawah embargo Amerika Serikat yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Para demonstran mengecam dampak sanksi AS sambil menjalani realitas sehari-hari yang ditandai dengan keterbatasan bahan bakar, kelangkaan barang kebutuhan pokok, dan pengurangan transportasi umum.