Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Jumat (1/5) menggambarkan penyitaan kapal-kapal Iran oleh Angkatan Laut AS di Selat Hormuz sebagai “bisnis yang sangat menguntungkan.” Pernyataan ini disampaikan Trump dalam sebuah acara di negara bagian Florida, AS, tak lama setelah insiden penembakan di acara White House Correspondents’ Dinner pada 25 April 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Trump secara terbuka membanggakan bahwa Washington telah mengambil alih kargo dan minyak Iran sebagai bagian dari blokade yang diberlakukan. “Kami mengambil alih kargo. Mengambil alih minyak, bisnis yang sangat menguntungkan. Siapa yang menyangka, kami seperti bajak laut, tapi kami tidak sedang main-main,” ujar Trump.
Trump juga membela langkah blokade tersebut dengan berargumen bahwa Iran telah menggunakan “Selat Hormuz sebagai senjata selama bertahun-tahun, mereka mengatakan akan menutupnya. Jadi, mereka menutupnya, lalu saya menutupnya untuk kapal mereka.”
Mengenai perundingan nuklir yang sedang berlangsung dengan Iran, Trump menyatakan keraguannya apakah kesepakatan memang diinginkan. “Sejujurnya, mungkin lebih baik kita tidak membuat kesepakatan sama sekali,” katanya, meskipun kemudian ia mengklaim bahwa situasi tersebut tidak dapat dibiarkan berlanjut.
Sebagai konteks, Amerika Serikat dan Israel memulai serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang memicu pembalasan dari Teheran terhadap sekutu-sekutu AS di Teluk serta penutupan Selat Hormuz. Gencatan senjata kemudian diumumkan pada 8 April melalui mediasi Pakistan, diikuti dengan perundingan di Islamabad pada 11-12 April, namun tidak tercapai kesepakatan.
Trump kemudian secara sepihak memperpanjang gencatan senjata tanpa menetapkan kerangka waktu baru, atas permintaan Pakistan. Sejak 13 April, AS telah memberlakukan blokade angkatan laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di jalur perairan strategis tersebut. Laporan juga menunjukkan bahwa pemerintahan Trump tengah berupaya membentuk koalisi internasional untuk memulihkan lalu lintas maritim di Selat Hormuz.
