Dokter Konsultan Aritmia Eka Hospital MT Haryono, dr. Evan Jim Gunawan, memperingatkan bahwa tekanan darah dan gula darah tinggi yang tidak terkontrol dapat merusak sistem kelistrikan jantung, memicu kondisi irama jantung tidak beraturan atau aritmia.
Menurut dr. Evan, kondisi hipertensi dan diabetes yang tidak terkontrol dapat mengubah struktur otot jantung. Perubahan ini kemudian menghambat sinyal listrik jantung, yang esensial untuk menjaga irama detak jantung yang konsisten.
Penyebab Aritmia dan Faktor Risiko Lainnya
“Hipertensi dan diabetes menjadi salah satu faktor yang bisa merusak sistem listrik jantung dan membuat irama jantung menjadi tidak beraturan atau aritmia,” kata dr. Evan di Tangerang, Rabu (1/4/2026).
Selain hipertensi dan diabetes, dr. Evan juga menyebutkan beberapa faktor lain yang dapat memicu kerusakan sistem kelistrikan jantung:
- Gangguan Tiroid: Kelenjar tiroid yang terlalu aktif atau kurang aktif sangat mempengaruhi kecepatan detak jantung.
- Gangguan Tidur: Kondisi seperti napas yang sering terhenti sejenak saat tidur dapat membebani jantung, sehingga mengubah iramanya.
- Kekurangan Nutrisi: Asupan kalium atau magnesium yang tidak memadai dalam darah bisa mengganggu transmisi sinyal listrik jantung.
Ia menjelaskan, jantung memiliki sistem kelistrikan yang rumit dengan jalur-jalur spesifik untuk berfungsi. Sinyal listrik ini menggerakkan otot jantung agar berdenyut. Dalam kondisi normal, sinyal berjalan tanpa hambatan, menghasilkan irama jantung yang konsisten. Namun, jika ada gangguan pada jalur sinyal, irama jantung menjadi tidak beraturan.
“Kondisi irama jantung yang tidak beraturan inilah yang disebut sebagai aritmia. Ada yang berdetak terlalu cepat, berdetak terlalu lambat hingga tidak teratur,” jelas dr. Evan.
Mengenali Debaran Jantung: Fisiologis vs. Berbahaya
Dr. Evan menuturkan, debaran jantung dapat dikategorikan menjadi dua jenis:
- Fisiologis (Wajar): Biasanya terjadi setelah mengonsumsi kafein berlebih, berolahraga berat, atau saat mengalami emosi yang kuat seperti stres, jatuh cinta, takut, atau panik. Irama jantung akan kembali normal dengan sendirinya setelah pemicu hilang.
- Berbahaya: Muncul secara tiba-tiba tanpa pemicu yang jelas, bertahan dalam waktu lama, atau disertai dengan gejala fisik lainnya. “Ini menandakan adanya gangguan pada sirkuit listrik jantung yang memerlukan pemeriksaan medis,” tegasnya.
Mengingat pentingnya deteksi dini, dr. Evan mengimbau masyarakat untuk segera melakukan pemeriksaan jika merasakan perubahan detak jantung yang tidak biasa.
“Tubuh kita sebenarnya sangat pintar dalam mengirimkan tanda peringatan. Jika mengalami perubahan detak jantung yang tak biasa maka segera melakukan screening sejak dini untuk mengantisipasi gangguan medis yang mungkin ada di tubuh,” ujarnya.
Penanganan Aritmia dengan Teknologi Medis Terkini
Kemajuan teknologi medis saat ini memungkinkan aritmia ditangani dengan efektif. Salah satu metode pengobatan populer adalah ablasi jantung, sebuah prosedur minimal invasif.
“Pada penanganan ini, dokter akan memperbaiki jalur listrik yang rusak agar irama jantung kembali normal tanpa perlu operasi bedah terbuka. Selain itu, penggunaan alat pacu jantung (pacemaker) juga telah membantu banyak orang kembali beraktivitas,” pungkas dr. Evan.
