Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi penyebaran virus Nipah. Peringatan ini disampaikan meskipun hingga saat ini belum ditemukan kasus pada manusia di Indonesia.
Penyebaran dan Gejala Virus Nipah
Kepala Dinkes Kota Mataram, dr H Emirald Isfihan, pada Senin (2/2/2026) menegaskan, “Waspadai potensi penyebaran virus Nipah.” Ia menjelaskan bahwa virus ini umumnya ditularkan dari hewan, khususnya kelelawar, dan dapat menular ke manusia melalui perantara babi.
“Virus Nipah berpotensi ditularkan dari hewan kepada manusia, salah satunya melalui perantara babi,” ujar dr Emirald.
Gejala yang ditimbulkan virus Nipah antara lain demam, meriang, dan pilek. Tingkat keparahan penyakit ini dapat menyebabkan kematian sekitar 40 persen, namun sangat bergantung pada kondisi tubuh penderita, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi, lanjut usia (lansia), dan mereka yang memiliki penyakit penyerta.
Kewaspadaan Nasional dan Imbauan PHBS
Meskipun belum ada kasus virus Nipah yang terdeteksi di Indonesia, dr Emirald menekankan pentingnya kewaspadaan. “Karena itu kami imbau kepada masyarakat untuk lebih waspada,” katanya, mengingat tingginya mobilitas manusia, khususnya di Kota Mataram sebagai Ibu Kota Provinsi NTB.
Pemerintah pusat juga telah meningkatkan kewaspadaan melalui Surat Edaran Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Nomor HK.02.02/C/4022/2023. Surat edaran ini ditujukan kepada pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, laboratorium kesehatan masyarakat, Kantor Kesehatan Pelabuhan, serta pemangku kepentingan terkait.
Virus Nipah pertama kali terdeteksi di India dan Bangladesh pada Desember 2025 dan kini menjadi perhatian serius otoritas kesehatan global. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk terus menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta waspada terhadap riwayat perjalanan.
