Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), menyatakan akan menindak tegas siswa yang terlibat dalam berbagai aktivitas mengganggu ketertiban umum selama bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah/2026. Larangan ini mencakup perang sarung, perang mercon, lomba lari, panco, serta kegiatan lain yang berpotensi menimbulkan keresahan di masyarakat.

Kepala Disdik Kota Mataram, Yusuf, pada Kamis (26/2/2026) di Mataram, menegaskan bahwa sanksi akan diberikan sesuai dengan aturan dan tata tertib yang berlaku di masing-masing satuan pendidikan. “Kami sudah siapkan sanksi tegas bagi siswa yang kedapatan mengganggu ketertiban umum selama puasa, bahkan hingga sanksi skorsing sesuai proses tahapannya,” ujar Yusuf.

Pernyataan ini muncul menyikapi maraknya aktivitas anak-anak dan remaja, terutama setelah waktu sahur, di beberapa lokasi strategis Kota Mataram. Titik-titik yang kerap menjadi lokasi kegiatan seperti perang sarung dan permainan petasan antara lain Udayana, Jalan Lingkar, Sekarbela, Jempong, dan Jalan Adi Sucipto.

Meski demikian, hingga saat ini Disdik Mataram belum menerima laporan resmi terkait keterlibatan siswa baik dari tingkat SD maupun SMP. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Disdik telah menyebarkan surat edaran kepada seluruh sekolah sebelum libur awal Ramadhan, dengan instruksi agar ditindaklanjuti kepada orang tua siswa.

Dalam surat edaran tersebut, Disdik menekankan agar kegiatan sekolah selama Ramadhan lebih difokuskan pada aktivitas keagamaan dan peningkatan iman serta takwa (imtak). Yusuf menjelaskan, pada pagi hari, siswa diimbau untuk mengikuti siraman rohani dan membaca Al-Quran, sehingga muatan akademik tidak terlalu dominan. “Selama Ramadhan, kegiatan di sekolah lebih memperkuat pada pembinaan mental spiritual dan keagamaan,” tambahnya.

Selain upaya di lingkungan sekolah, Disdik Mataram juga mengimbau para orang tua dan masyarakat untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak mereka, khususnya di luar jam sekolah. Hal ini bertujuan untuk mencegah anak-anak terlibat dalam kegiatan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.

“Mari bersama-sama berkolaborasi menjaga anak-anak agar ibadah puasa dapat dijalankan dengan aman dan nyaman, baik di malam hari maupun pagi hari,” tutup Yusuf, menyerukan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat.