Grebeg Besar, salah satu upacara adat paling dinantikan dalam kalender budaya Jawa, kembali digelar di dua pusat kebudayaan Mataram: Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Keraton Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Meski sama-sama memperingati Hari Raya Idul Adha 1447 H, pelaksanaan pada tahun 2026 ini menunjukkan pendekatan yang berbeda antara pelestarian tradisi dan adaptasi terhadap kondisi zaman.
Garebeg Besar Dal 1959 Keraton Yogyakarta: Simbol Kesederhanaan
Pada tahun ini, Keraton Yogyakarta menggelar Garebeg Besar Dal 1959 dengan nuansa yang berbeda. Berdasarkan titah Sri Sultan Hamengku Buwono X, prosesi dilaksanakan secara sederhana. Langkah ini merupakan bentuk penghematan anggaran yang selaras dengan kebijakan pemerintah pusat maupun daerah.
Beberapa poin utama pelaksanaan di Yogyakarta meliputi peniadaan ritual publik seperti Gladhi Resik Prajurit dan ritual Numplak Wajik untuk efisiensi. Sebagai ganti gunungan yang biasanya dikirab ke publik, keraton membagikan sekitar 4.000 ubarampe pareden. Distribusi ubarampe ini dilakukan secara internal setelah didoakan oleh Kanca Kaji.
Pembagian ubarampe dilakukan oleh putra-putri dalem, yaitu GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Hayu, dan GKR Bendara, serta menantu dalem, KPH Wironegoro dan KPH Notonegoro, kepada para abdi dalem. Penghageng II Kawedanan Reksa Suyasa Keraton Yogyakarta, KRT Kusumanegara, menegaskan bahwa meskipun sederhana, “esensi sedekah raja kepada rakyat tetap terjaga” melalui simbolisme ubarampe tersebut.
Grebeg Besar Keraton Surakarta: Antusiasme dan “Membumikan” Budaya
Berbeda dengan Yogyakarta, Keraton Surakarta Hadiningrat merayakan Idul Adha 1447 H dengan kemeriahan di pelataran Masjid Agung. Ratusan warga dan wisatawan berkumpul untuk mengikuti tradisi “ngalap berkah” atau berebut gunungan yang menjadi daya tarik utama.
Filosofi dua gunungan menjadi inti dari perayaan ini. Gunungan Jaler (Laki-laki) berisi hasil bumi mentah seperti kacang panjang, tebu, cabai merah, dan telur asin, melambangkan sumber kehidupan dan kesuburan. Sementara itu, Gunungan Estri (Perempuan) berisi makanan siap saji atau rengginang, melambangkan kesejahteraan dan hasil yang siap dinikmati.
KP Eddy Wirabhumi dari Lembaga Hukum Keraton Surakarta menjelaskan bahwa pada tahun ini, kedua gunungan akhirnya diperebutkan oleh masyarakat di pelataran masjid. Hal ini dilakukan untuk mengakomodasi animo masyarakat dan wisatawan yang luar biasa, sekaligus sebagai upaya “membumikan” budaya Solo sebagai pusat kebudayaan Jawa.
Perbandingan Esensi Kedua Keraton
| Aspek | Keraton Yogyakarta (Dal 1959) | Keraton Surakarta (1447 H) |
|---|---|---|
| Bentuk Sedekah | Ubarampe Pareden (Internal) | Gunungan Jaler & Estri (Publik) |
| Lokasi Utama | Internal Keraton | Pelataran Masjid Agung |
| Semangat Utama | Realisme & Penghematan | Pelestarian & Edukasi Budaya |
Kesimpulan
Baik Grebeg Besar di Surakarta maupun Yogyakarta memiliki akar sejarah yang sama, yakni sebagai wujud syukur dan sedekah raja kepada rakyatnya. Perbedaan teknis pelaksanaan pada tahun 2026 ini menunjukkan bahwa tradisi Jawa bersifat dinamis. Tradisi ini bisa tampil bersahaja dalam balutan keprihatinan ekonomi, namun juga bisa tampil inklusif untuk merangkul antusiasme publik.
FAQ Tradisi Grebeg Besar
- Apa itu ubarampe pareden? Bagian-bagian kecil dari komponen gunungan yang telah didoakan, biasanya dibagikan sebagai simbol berkah dari keraton.
- Mengapa warga berebut gunungan? Masyarakat meyakini bahwa mendapatkan bagian dari gunungan (ngalap berkah) dapat membawa ketenteraman, keberuntungan, atau kesuburan bagi pertanian mereka.
