Ahli gizi Diah Maunah, yang juga merupakan anggota Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI), mengungkapkan bahwa konsumsi mi instan kuah dapat diupayakan menjadi lebih sehat dan masih bisa ditoleransi. Kuncinya terletak pada modifikasi bumbu menggunakan bumbu dapur serta penambahan lauk protein dan sayuran.

Strategi Modifikasi Bumbu untuk Kontrol Natrium

Diah menjelaskan bahwa salah satu langkah utama adalah mengurangi penggunaan bumbu bubuk mi instan. “Modifikasi penggunaan bumbu untuk menurunkan kandungan natrium, dengan cara penggunaan bumbu dapur untuk mengurangi penggunaan bumbu bubuk mi instan,” kata Diah kepada ANTARA, Senin (2/2/2026).

Ia memberikan contoh praktis, misalnya saat memasak mi instan untuk lima orang, penggunaan bumbu bubuk cukup tiga bungkus saja. Kekurangan rasa dapat diganti dengan bumbu dapur seperti tumisan bawang merah, bawang putih, kemiri, dan cabai segar.

Pentingnya Penambahan Protein dan Sayuran

Selain modifikasi bumbu, penambahan lauk juga menjadi faktor krusial. Diah menganjurkan penambahan lauk hewani seperti telur, ayam suwir, atau ikan untuk meningkatkan asupan protein.

Tidak hanya itu, sayuran juga wajib ditambahkan sebagai sumber kalium yang berfungsi menyeimbangkan kandungan natrium dan melengkapi kebutuhan serat. Pilihan sayuran yang bisa ditambahkan antara lain sawi hijau/putih, ketimun, kangkung, dan tomat.

Hal-hal yang Perlu Dihindari

Diah juga mengingatkan beberapa hal yang harus dihindari saat mengonsumsi mi instan:

  • Hindari penambahan saus dan kecap berlebihan karena akan menambah kandungan natrium.
  • Hindari penambahan pelengkap yang tinggi natrium seperti pilus atau keripik asin.
  • Tidak menghabiskan kuah mi, sehingga asupan natrium dapat lebih terkontrol.

Mi Instan sebagai Makanan Rekreasi

Lebih lanjut, Diah menyarankan agar mi instan tidak dimasukkan dalam daftar belanja bulanan. Tujuannya adalah untuk menghindari godaan mengonsumsi mi instan secara rutin. “Jadikan memakan mi instan hanya sebagai makanan rekreasi,” tegasnya.

Saran ini juga berlaku untuk mi instan yang mengklaim lebih sehat, seperti yang dituliskan “mi dipanggang” atau “Non-MSG”. Diah menekankan pentingnya untuk selalu memeriksa label informasi nilai gizi, terutama energi, lemak, dan natrium atau sodiumnya.

Menganalisis Klaim Mi Instan “Sehat”

Diah menjelaskan perbedaan nutrisi pada mi instan dengan klaim sehat. “Jika kita bandingkan dalam satu sajian energinya memang dapat berbeda 50 persennya dikarenakan teknik pemanggangan minya sehingga kandungan lemaknya pun signifikan lebih sedikit turun 40 persen,” paparnya.

Namun, untuk kandungan natrium, Diah menemukan bahwa pada produk mi diet ada perbedaan, tetapi untuk jenis mi yang dipanggang, perbedaannya tidak signifikan. Bahkan, ada varian yang memiliki kandungan natrium lebih tinggi, bisa di atas 1.500 miligram, tergantung varian rasanya.

Oleh karena itu, Diah menganjurkan untuk tetap tidak mengonsumsi mi dengan klaim sehat sebagai menu harian. Frekuensi dan batasan konsumsinya tetap harus diperhatikan secara cermat.