Film “Pesta Babi” kembali menjadi sorotan publik setelah pemutarannya di Coffee Shop Piltik, Kecamatan Siborong-borong, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara, pada Sabtu (16/5/2026) sore. Meski judulnya kerap memicu polemik, film ini justru berhasil menarik antusiasme masyarakat setempat untuk menyaksikan dan mendiskusikan pesan mendalam yang disampaikannya.
Pemutaran yang dimulai sekitar pukul 17.00 WIB itu berlangsung aman dan kondusif, berbeda dengan respons penolakan yang sempat terjadi di beberapa wilayah lain di Indonesia. Tingginya polemik dan penolakan terhadap film ini justru memunculkan rasa ingin tahu sebagian masyarakat untuk menyaksikan secara langsung isi dan pesan yang disampaikan.
Bukan Sekadar Kuliner, Ini Perjuangan Identitas
Berbeda dengan persepsi awal yang mungkin mengira film ini membahas olahan daging babi atau kuliner, “Pesta Babi” justru menyajikan gambaran kehidupan masyarakat di Papua. Film ini secara khusus menyoroti perjuangan mereka dalam mempertahankan adat, identitas budaya, serta tanah adat yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.
Pesan yang disampaikan dalam film dinilai sangat menyentuh, terutama terkait kepedulian terhadap hak-hak masyarakat adat di tengah berbagai tantangan sosial yang mereka hadapi. Hal ini menjadi relevan mengingat isu-isu terkait babi belakangan ini juga menjadi perhatian di Sumatra Utara, mulai dari wacana menjadikan Kabupaten Samosir sebagai destinasi wisata halal, dugaan pembatasan penjualan daging babi di Kota Medan, hingga penolakan pemutaran film ini di beberapa daerah.
Diskusi Penuh Makna dan Refleksi Sosial
Usai pemutaran, suasana diskusi berlangsung santai namun penuh makna. Para peserta berbagi pandangan mengenai nilai-nilai budaya, pentingnya menjaga wilayah adat, serta refleksi terhadap kondisi sosial masyarakat adat di berbagai daerah di Indonesia.
Pembele Butar Butar (51), salah seorang peserta nobar, mengaku memperoleh banyak pesan moral setelah menyaksikan film tersebut. “Film Pesta Babi memiliki banyak makna yang harus kita renungkan,” ujarnya singkat pada Sabtu (16/5/2026).
Senada dengan Pembele, seorang mahasiswa di Tarutung yang meminta namanya tidak dipublikasikan juga mengungkapkan bahwa film tersebut menyimpan pesan moral yang cukup mendalam, terutama mengenai identitas budaya dan perjuangan masyarakat adat.
Edward Tigor Siahaan dan Vera P. Hutauruk, pemilik Coffee Shop Piltik, menyambut hangat para pengunjung. Mereka berharap suasana tetap kondusif selama maupun setelah pemutaran film berlangsung. Sabastian Hutabarat, warga Kabupaten Toba, juga tampak meluangkan waktunya untuk mengikuti pemutaran film hingga selesai, menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap isu yang diangkat film ini.
