Langit di atas hamparan sawah di Kelurahan Sidenreng, Kecamatan Watang Sidenreng, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, belum seterang wajah Nurdin pagi itu. Namun, kehadiran truk Bulog yang parkir di pinggir jalan tani, bukan sekadar lewat, telah membawa kelegaan. Bagi petani berusia 48 tahun anggota Kelompok Tani Malomoe itu, pemandangan ini lebih menenangkan daripada harga gabah tinggi yang tak pasti.

“Gabah kami dijemput langsung, harga jelas. Petani di Sidrap bisa bernapas lega musim ini,” kata Nurdin, menyeka peluh yang kali ini terasa lebih ringan.

Ribuan kilometer dari sana, di Kabupaten Gowa, Hasna, 53 tahun, memasak nasi kuningnya dengan tenang. Harga beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) yang ia beli dari operasi pasar Bulog tidak bergeming. Dengan uang pas-pasan, beras cukup untuk dua minggu ke depan. Ia tidak peduli dengan istilah stabilisasi pasokan dan harga pangan, yang ia tahu warungnya tetap buka, dan anak-anak sekolah masih bisa sarapan.

“Jadi berasnya itu, tidak hanya saya makan di rumah, saya juga jual nasi kuning kecil-kecilan seharga Rp10 ribu satu bungkus. Dengan harga beras murah, lumayan dapat untung kecil-kecilan,” ungkap Hasna.

Misi Raksasa Bulog: Dari Stabilisasi hingga Kedaulatan Pangan

Dua potret ini, petani dan ibu rumah tangga, adalah denyut nadi sesungguhnya dari misi raksasa Perum Bulog di usia ke-59. Sebuah misi yang lahir pada 10 Mei 1967 dengan tugas tunggal menstabilkan harga beras, kini telah bertransformasi menjadi operasi logistik modern yang menjaga kedaulatan pangan dari hulu ke hilir.

Sulawesi Selatan memegang peran krusial dalam misi ini. Provinsi ini bukan hanya sentra produksi utama di luar Jawa, melainkan juga pintu distribusi pangan ke seluruh Indonesia bagian timur. Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, beberapa waktu lalu menegaskan bahwa Sulsel merupakan wilayah strategis penyangga pangan nasional.

Angka per 18 April 2026 membuktikan klaim itu. Realisasi pengadaan gabah di wilayah kerja Divre Sulselbar mencapai 374.783 ton, tembus 131 persen dari target 284.535 ton. Capaian ini merupakan buah dari kolaborasi berbagai pihak.

Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, secara terbuka menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak, mulai dari TNI-Polri, penyuluh pertanian, kepala daerah, Bulog, hingga para petani. Ia bahkan turun langsung bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah meninjau Gudang Bulog Makassar untuk memberi jaminan. “Stok beras di Sulawesi Selatan dalam kondisi aman,” tegasnya di hadapan karung-karung cadangan beras.

Dukungan serupa mengalir deras dari kabupaten-kabupaten penyangga. Di Bone, Bupati Andi Asman Sulaiman memimpin Apel Siaga Swasembada Pangan, menyerukan komitmen bersama mengawal serapan gabah dan menjadikan Bone lumbung pangan dengan tiga komoditas andalan, yakni padi, jagung, dan ternak. Sementara di Gowa, Wakil Bupati Darmawangsyah Muin menyalurkan Bantuan Pangan Beras kepada 47.184 keluarga penerima manfaat, berharap langkah ini turut menurunkan inflasi dan menstabilkan harga di pasar.

Transformasi Gudang dan Rekor Stok Nasional

Di balik capaian itu, wajah Bulog tidak lagi sama. Kepala Divre Bulog Sulselbar, Fahrurozi, sejak awal 2026 sudah optimistis menatap target yang nyaris dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Optimisme itu punya dasar, vertical dryer kini menggantikan panas matahari yang tak menentu. Perum Bulog Kanwil Sulsel dan Sulbar kini memiliki 51 kompleks pergudangan dengan 204 unit gudang berkapasitas 408.300 ton. Stok beras terpantau lewat layar digital secara real-time. Di Maros, gudang bahkan mulai diisi jagung pipil untuk peternak, pertanda Bulog tidak lagi hanya tentang beras.

Namun, bukti paling gamblang dari transformasi ini justru hadir dalam wujud yang tak pernah terbayang sebelumnya. Kapasitas gudang permanen Bulog secara nasional hanya 2 hingga 3 juta ton. Saat stok beras nasional melonjak menembus 4,5 juta ton dan diproyeksikan mencapai 5 juta ton dalam waktu dekat, gudang-gudang itu tiba-tiba tidak mampu lagi menampung.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, saat berada di Makassar dengan nada penuh keyakinan mengungkapkan fakta ini. “Kami (Bulog) lahir 1969, sejak kami lahir sampai 2026, stok ini yang tertinggi sepanjang sejarah republik. Ini tidak bisa dibantah,” katanya.

Untuk menampung lonjakan itu, Bulog mengambil langkah taktis dengan menyewa 211 unit gudang komersial, menambah total kapasitas 2 juta ton. “Bayangkan, gudang yang dulu disewakan ke orang karena kosong, sekarang kita yang sewa lagi. Dan di situlah puncak kebahagiaan sebagian orang kalau tidak ada beras,” ujar Amran, yang juga Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas).

Pemerintah bahkan berencana menambah sewa lagi, karena hitungan 10 hingga 20 hari ke depan stok nasional bisa menembus 5 juta ton. Amran menegaskan bahwa pengakuan atas capaian pangan Indonesia berasal dari tiga lembaga kredibel, yaitu Badan Pusat Statistik (BPS), Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), serta Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA). “Hampir pasti kalau ada yang mau protes, proteslah kepada ketiga lembaga itu,” tegasnya.

Ia bahkan melontarkan tantangan berani. “Kalau data 5 juta ton ini tidak benar, semua direksi, komisaris, dan pegawainya harus dipenjara. Nilainya Rp60 triliun, dan yang mengaudit adalah BPK.”

Dukungan Daerah dan Proyeksi Swasembada

Di balik data dan mesin modern, dukungan dari pemerintah daerah menjadi kunci. Di Watampone, Bupati Andi Asman mengingatkan semua pihak dengan pesan sederhana. “Pemerintah harus hadir dan kita memberikan kontribusi menghadirkan kesejahteraan masyarakat,” serunya.

Pesan itu selaras dengan langkah konkret di lapangan. Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, turun langsung ke sawah di Kelurahan Majjeling Wattang untuk mendorong petani bertransformasi. Ia membeberkan strategi petani modern yang mengombinasikan rice transplanter dengan teknologi perlindungan tanaman untuk mendongkrak produktivitas hingga tembus 10 ton per hektare.

“Dulu, tahun 2024, hasil pertanian Sidrap hanya 440.000 ton gabah senilai Rp2,5 triliun. Setelah kita bekerja bersama, tahun 2025 naik menjadi 665.000 ton atau Rp4,6 triliun,” paparnya. Stabilnya harga gabah di angka Rp7.300 per kilogram membuat optimisme itu semakin berdasar. Program cetak sawah baru seluas 148 hektare telah direalisasikan, dan tambahan 5.000 hektare menanti lahan potensial yang siap digarap.

Di usia ke-59, Bulog tidak sedang merayakan senja. Perubahan iklim, potensi El Nino, dan dinamika geopolitik adalah ancaman yang terus membayang. Namun, dengan stok Cadangan Beras Pemerintah yang terjaga di level tertinggi, sinergi kokoh dengan TNI-Polri melalui Satgas Pangan, serta dukungan penuh pemerintah daerah, optimisme itu tetap menyala.

Pemerintah menegaskan komitmennya untuk mencapai target serapan gabah setara 4 juta ton beras pada 2026. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), saat Panen Raya di Maros, secara khusus mengapresiasi peran TNI, terutama Babinsa, dalam memperbaiki sistem logistik dan pengadaan gabah dari tingkat koperasi desa. “Tahun lalu sudah bisa 4 juta ton lebih. Tahun ini 4 juta ton, insya Allah, saya yakin bisa lebih,” ujarnya. Keyakinan ini membuka peluang yang sebelumnya seperti utopia, Indonesia berpotensi tidak lagi mengimpor, bahkan bisa mengekspor beras. Dari sawah di Sidrap hingga dapur-dapur di pelosok pulau, nadi pangan Indonesia masih berdetak kencang.