Hujan deras yang mengguyur kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), memicu serangkaian bencana alam di dua desa dalam dua hari terakhir. Longsor memutus akses jalan antardesa, sementara banjir merendam belasan rumah dan memaksa warga mengungsi.

Longsor Tutup Jalan Penghubung Dua Desa

Bencana longsor terjadi di batas Desa Kayuambon dan Desa Cibogo pada Minggu (24/5) malam. Material rumpun bambu berukuran besar ambruk disertai tanah, menutup total jalan penghubung kedua desa tersebut. Beruntung, saat kejadian kondisi jalan sedang sepi sehingga tidak ada korban jiwa maupun kendaraan yang melintas.

Oop Sutopa, seorang warga Desa Kayuambon, menjelaskan bahwa material rumpun bambu yang roboh langsung menutupi badan jalan. Ia menduga, salah satu faktor pemicu kondisi tanah labil adalah banyaknya kebun sayuran yang menggunakan mulsa plastik. “Wilayah ini beberapa kali menunjukkan tanda rawan longsor saat musim hujan. Karena itu warga selalu meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika hujan turun hingga malam hari,” kata Oop, Senin (25/5).

Menurut Oop, mulsa plastik menghambat penyerapan air ke tanah saat hujan deras turun dalam waktu lama, sehingga berpotensi memicu pergerakan tanah. Sejak Senin pagi, warga bersama aparat setempat bahu-membahu membersihkan material longsor agar akses jalan dapat kembali dilintasi kendaraan roda dua maupun roda empat. “Kontur tanah di sekitar lokasi cukup labil ketika terus diguyur hujan, sehingga warga selalu khawatir setiap kali turun hujan deras,” ujarnya.

Banjir Bandang Rendam Belasan Rumah di Gudangkahuripan

Dua hari sebelumnya, pada Sabtu (23/5), bencana banjir bandang juga menerjang Kampung Andir RT 01 RW 15, Desa Gudangkahuripan, Kecamatan Lembang. Sebanyak delapan rumah yang dihuni 11 kepala keluarga terdampak banjir. Dua rumah di antaranya mengalami kerusakan parah karena dinding jebol dihantam arus banjir.

Kepala Desa Gudangkahuripan, Agus Karyana, mengungkapkan bahwa banjir dipicu curah hujan ekstrem yang membuat saluran drainase tidak mampu menampung limpasan air. “Banjir terjadi sore hari setelah hujan mengguyur kawasan Lembang. Genangan air membawa lumpur dan merendam rumah warga setinggi 60 sentimeter,” ungkap Agus.

Selain merendam permukiman, banjir juga menyebabkan benteng di sisi gang penghubung kampung ambruk karena tidak kuat menahan derasnya arus air. Meski kerugian materiil tergolong besar, Agus memastikan tidak ada korban jiwa dalam rentetan bencana di kawasan wisata tersebut. “Kalau korban jiwa tidak ada,” jelasnya.