Pemerintah China menegaskan kesiapan untuk bekerja sama dengan berbagai pihak dalam menjaga keamanan energi global. Pernyataan ini disampaikan di tengah ketidakpastian kondisi di Selat Hormuz yang terus mengganggu lalu lintas pasokan minyak olahan dan gas alam cair (LNG) internasional.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing pada Rabu (29/4) menyatakan, “China siap untuk menjaga komunikasi dengan semua pihak guna bersama-sama menjaga keamanan energi global serta menjaga stabilitas rantai industri dan pasokan.”
Sebelumnya, China telah menyetujui ekspor bahan bakar sebanyak 500.000 metrik ton untuk Mei ke wilayah di luar Hong Kong. Angka ini hampir dua kali lipat dari perkiraan pengiriman pada April, meskipun jumlahnya masih kurang dari separuh rata-rata pada periode yang sama tahun lalu.
Padahal, China diketahui telah memperketat ekspor bahan bakar sejak Maret guna melindungi pasar domestik dari gangguan pasokan minyak mentah dan bahan bakar. Gangguan ini disebabkan oleh penutupan Selat Hormuz akibat konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Lin Jian juga menyoroti dampak konflik tersebut. “Konflik di Timur Tengah sedang menekan pasokan bahan bakar global. Banyak negara merasakan dampaknya. Kunci untuk menyelesaikan masalah ini secara mendasar adalah mencegah dengan segala cara terulangnya kembali konflik terbuka,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Lin Jian mendesak pihak-pihak yang terlibat konflik agar dapat mencapai gencatan senjata yang penuh dan bertahan, serta membendung segala gejolak baru yang berpotensi semakin memukul ekonomi global.
Negara-negara Asia-Pasifik seperti Australia, Bangladesh, Kamboja, Laos, Maladewa, Myanmar, Selandia Baru, dan Sri Lanka diberitakan akan menerima pasokan bahan bakar dari China pada Mei. Beijing akan menentukan volume dan tujuan pengiriman tersebut.
Peningkatan kecil dalam volume pengiriman ini terjadi menyusul lobi yang dilakukan oleh perusahaan minyak negara China untuk melanjutkan sebagian penjualan ke luar negeri. Terlebih, dalam beberapa pekan terakhir, kenaikan harga bahan bakar domestik justru mengakibatkan permintaan yang melemah, sebagian disebabkan karena penggunaan kendaraan listrik. Hal ini mengurangi tekanan terhadap permintaan bahan bakar bensin dalam negeri dan sebaliknya permintaan ekspor justru mengalami kenaikan tajam.
Lebih dari separuh dari 500.000 ton minyak olahan yang disetujui dialokasikan untuk perusahaan penyuling minyak utama milik negara, Sinopec. Sementara itu, PetroChina diizinkan untuk mengekspor 150.000 ton dan CNOOC 40.000 ton. Diesel dan bahan bakar jet kemungkinan akan mencakup setidaknya 40 persen dari total volume tersebut.
Sebagai importir minyak terbesar di dunia, China telah fokus pada ketahanan energi selama bertahun-tahun. Strategi ini bertumpu pada diversifikasi pemasok minyak serta investasi besar-besaran dalam produksi dan cadangan domestik, yang menempatkan China pada posisi yang lebih kuat dibandingkan negara-negara tetangganya saat menghadapi krisis pasokan energi.
China juga bertindak cepat untuk melindungi konsumen domestik dengan membatasi ekspor bahan bakar, pada saat negara-negara pengimpor minyak di Asia Tenggara seperti Filipina dan Vietnam sedang berjuang menghadapi kelangkaan pasokan yang parah.
