Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) pada Senin (4/5/2026) mengungkapkan bahwa kapal-kapal dari 87 negara terperangkap di Teluk Persia. Keterjebakan ini merupakan dampak dari pembatasan navigasi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz.

Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper menjelaskan bahwa kapal-kapal yang terdampak tersebut berstatus netral dan tidak terlibat dalam konflik yang sedang berlangsung. Pernyataan ini merujuk pada penegasan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya dibagikan melalui akun X resmi Komando Pusat AS.

Cooper menambahkan, pasukan AS telah menjalin komunikasi intensif dengan puluhan kapal serta perusahaan pelayaran. Upaya ini bertujuan untuk mendorong dimulainya kembali arus lalu lintas normal melalui jalur perairan strategis yang sangat vital bagi perdagangan global tersebut.

Inisiatif “Project Freedom” dan Dukungan Militer AS

Sehari sebelum pernyataan Cooper, Presiden Trump telah mengumumkan inisiatif bernama “Project Freedom”. Proyek ini dirancang untuk membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz dan berkeinginan untuk meninggalkan kawasan tersebut di tengah meningkatnya ketegangan.

CENTCOM menyatakan dukungan militer penuh terhadap inisiatif ini. Dukungan tersebut mencakup pengerahan kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat yang berbasis di darat dan laut, serta berbagai platform nirawak multi-domain. Selain itu, sekitar 15.000 personel militer telah dikerahkan dalam operasi ini, yang menurut CENTCOM telah dimulai pada Senin pagi waktu Timur Tengah.

Bantahan CENTCOM atas Klaim Serangan Iran

Di tengah situasi ini, media Iran, IRIB, sempat melaporkan bahwa militer Iran berhasil mencegah kapal AS melintas dengan menyerang sebuah kapal perang menggunakan dua rudal. Namun, klaim tersebut dengan tegas dibantah oleh pihak CENTCOM.

Menurut CENTCOM, tidak ada satu pun kapal AS yang terkena serangan. Operasi di wilayah tersebut tetap berjalan sesuai rencana untuk menjaga keamanan jalur pelayaran internasional dan memastikan kebebasan navigasi.

Sebelumnya, Presiden Trump telah memperingatkan Iran akan menghadapi konsekuensi besar jika berani menargetkan kapal-kapal AS di sekitar Selat Hormuz. Selat ini dikenal sebagai jalur vital bagi perdagangan energi global.

Ketegangan yang terus meningkat di kawasan tersebut telah memicu kekhawatiran serius terhadap potensi gangguan pasokan minyak dunia. Oleh karena itu, upaya diplomatik dan militer terus digencarkan untuk memastikan kebebasan navigasi tetap terjaga di salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia.