Masyarakat di Nusa Tenggara Barat (NTB) berkesempatan menyaksikan fenomena gerhana Bulan total yang fotogenik pada Selasa, 3 Maret 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan momen langka ini akan terlihat sangat spesial karena posisi Bulan yang baru saja terbit.
Pengamat Stasiun Geofisika Mataram, Daffa Andhika Pramadhana, menjelaskan bahwa keberadaan Bulan yang masih rendah di ufuk timur akan menambah keindahan visual gerhana ini. “Posisi gerhana masih cukup rendah di ufuk timur, sehingga momen itu terlihat sangat cantik untuk didokumentasikan,” ujar Daffa dalam pernyataannya di Mataram, NTB.
Waktu dan Cakupan Gerhana
Daffa merinci, fase gerhana Bulan akan dimulai pada pukul 19.04 WITA. Puncak gerhana diperkirakan terjadi mulai pukul 19.34 WITA, dan seluruh rangkaian fenomena akan berakhir pada pukul 20.22 WITA.
Berdasarkan Almanak 2026 yang diterbitkan oleh BMKG, gerhana Bulan total kali ini memiliki cakupan yang luas, melintasi kawasan Amerika, Australia, hingga Asia, termasuk seluruh wilayah Indonesia.
Fenomena Warna Merah Eksotis
Salah satu daya tarik utama gerhana Bulan total adalah perubahan warna Bulan menjadi kemerahan. Daffa menjelaskan bahwa warna merah yang muncul saat fase total terjadi akibat atmosfer bumi membiaskan spektrum cahaya merah Matahari ke permukaan Bulan. Proses ini serupa dengan fenomena langit kemerahan yang sering kita saksikan saat Matahari terbenam.
“Fenomena inilah yang menciptakan efek warna merah eksotis,” kata Daffa, menambahkan bahwa kejadian ini murni merupakan hukum fisika dan peristiwa alam yang dapat diprediksi secara ilmiah.
Frekuensi dan Dampak
Gerhana Bulan total tidak terjadi setiap tahun. Menurut Daffa, fenomena ini berkisar satu hingga tiga tahun sekali, tergantung pada fase dan posisi Bulan terhadap Bumi dan Matahari. Sejak tahun 2021, fenomena gerhana Bulan total serupa telah beberapa kali dapat diamati di wilayah Indonesia.
Daffa juga menegaskan bahwa fenomena gerhana ini tidak akan berdampak signifikan terhadap kenaikan pasang surut air laut. Tinggi muka air laut lebih dipengaruhi oleh fase Bulan, faktor angin kencang, maupun gelombang badai. “Fenomena itu murni hukum fisika dan peristiwa alam yang bisa diprediksi secara ilmiah,” pungkasnya.
Prakiraan Cuaca dan Seri Saros
BMKG memprakirakan kondisi cuaca malam ini berawan di sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Barat. Kondisi ini berpotensi membuat masyarakat agak kesulitan untuk melihat gerhana Bulan total secara langsung.
Gerhana Bulan total 3 Maret 2026 ini merupakan anggota ke-27 dari 71 anggota pada seri Saros 133. Gerhana Bulan sebelumnya yang berasosiasi dengan seri ini adalah gerhana Bulan total pada 21 Februari 2008. Sementara itu, gerhana Bulan yang akan datang dan berasosiasi dengan gerhana ini diperkirakan akan muncul 18 tahun lagi, yakni pada 13 Maret 2044.
sumber gambar: gesit.id 