Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau para petani di Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk segera menyesuaikan jadwal tanam. Langkah ini krusial sebagai antisipasi menghadapi musim kemarau panjang yang diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih lama.
“Kami memperkirakan kondisi kemarau tahun ini berlangsung lebih panjang dan lebih kering,” ungkap Kepala Stasiun Klimatologi BMKG NTB, Nuga Putrantijo, dalam konferensi pers di Mataram pada Senin (9/3/2026).
Nuga menjelaskan, penyesuaian jadwal tanam merupakan langkah vital guna menjaga produksi pertanian. Hal ini penting dilakukan di tengah keterbatasan ketersediaan air, baik dari sarana irigasi maupun curah hujan.
BMKG menyarankan petani agar memilih komoditas yang tidak memerlukan banyak air. Selain itu, tanaman dengan siklus tanam yang lebih pendek juga direkomendasikan untuk mengurangi risiko gagal panen akibat kemarau ekstrem.
Untuk sektor pengelolaan air, Nuga mendesak pemerintah daerah dan masyarakat. “Kami mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk menjaga ketersediaan sumber daya air secara optimal dan mengatur penggunaan irigasi secara efektif,” ujarnya.
Berdasarkan prakiraan BMKG, NTB akan mengalami musim kemarau dengan durasi sekitar 25 hingga 27 dasarian. Periode ini setara dengan delapan hingga sembilan bulan.
Awal musim kemarau diperkirakan dimulai pada April 2026. Sementara itu, puncak kemarau diproyeksikan terjadi pada Agustus 2026, yang akan melanda sekitar 89 hingga 90 persen wilayah NTB.
“Badan Wilayah Sungai dan Dinas Pertanian perlu mengantisipasi secara lebih serius,” tegas Nuga.
Lebih lanjut, Nuga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai dampak kemarau panjang. Dampak tersebut tidak hanya meliputi kekeringan dan gangguan kesehatan, tetapi juga potensi kebakaran hutan dan lahan. Wilayah seperti Gunung Rinjani dan Gunung Tambora disebut rentan terhadap risiko kebakaran.
