Gesit ID – Tulisan ini diringkas dari Dokumen PPT berjudul: PPT Berakhlaq dengan Al Qur’an oleh Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi Dahlan, QH., SS., M.A., (tombol Download PPT ada di paling akhir).
Pemikiran tentang pentingnya berakhlak dengan Al-Qur’an di tengah berbagai distraksi sosial menjadi salah satu pesan utama dalam ajaran dan wasiat Al-Magfurullah Maulanassyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Gagasan tersebut kembali diangkat dalam sebuah pemaparan oleh Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi Dahlan, QH., SS., M.A., Wakil Ketua Umum PBNW sekaligus Ketua LPM UIN Mataram.
Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa pesan-pesan moral dan spiritual Maulanassyaikh banyak tertuang dalam karya monumental beliau berjudul “Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru.” Karya tersebut memuat berbagai nasihat bagi umat Islam, khususnya keluarga besar Nahdlatul Wathan (NW), tentang bagaimana menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.
Kondisi Zaman yang Memburuk
Dalam salah satu wasiatnya, Maulanassyaikh menggambarkan kondisi zaman modern sebagai zaman yang penuh dengan tantangan moral. Beliau menyebutkan bahwa zaman sekarang adalah zaman yang memburuk, di mana banyak manusia tampak baik secara lahir, namun menyimpan keburukan di dalam hati.
Pesan tersebut tergambar dalam bait nasihatnya:
“Zaman sekarang zaman memburuk,
Mulutnya manis hatinya buruk.
Kalau orang berjiwa buruk,
Belum berkuku sudah menggaruk.”
Melalui ungkapan tersebut, Maulanassyaikh mengingatkan bahwa kerusakan moral tidak selalu tampak secara lahiriah. Seseorang dapat terlihat baik dalam perkataan, namun memiliki niat yang tidak baik dalam hati.
Beliau juga menegaskan bahwa zaman ini merupakan zaman munkarot, yakni masa yang dipenuhi berbagai bentuk kemungkaran. Dalam situasi tersebut, umat Islam dituntut untuk memperkuat iman, memperbanyak amal saleh, serta menjaga diri dari berbagai bentuk penyimpangan.
Pentingnya Mengingat Allah
Sebagai solusi menghadapi kondisi zaman tersebut, Maulanassyaikh menekankan pentingnya senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan.
Beliau menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak amalan seperti:
-
membaca shalawat
-
membaca Al-Qur’an
-
berzikir
-
serta bertaubat kepada Allah
Nasihat tersebut dirangkum dalam bait berikut:
“Zaman sekarang zaman munkarot,
Memerlukan banyak membaca shalawat.
Membaca Qur’an, zikir dan taubat,
Mengingat Tuhan setiap saat.”
Amalan-amalan tersebut diyakini dapat menjaga hati manusia agar tetap bersih dan tidak mudah terpengaruh oleh berbagai godaan kehidupan modern.
Distraksi Sosial dan Hilangnya Kompas Moral
Maulanassyaikh juga menggambarkan fenomena sosial yang terjadi di masyarakat modern sebagai distraksi sosial, yakni kondisi di mana manusia kehilangan arah dan kompas moral dalam kehidupan.
Beliau menggambarkan kondisi tersebut melalui bait nasihat:
“Banyaklah orang kehilangan kompas,
Siang dan malam bersesak nafas.
Ibu bapaknya gurunya dilepas,
Akhirnya dia jatuh terhempas.”
Ungkapan tersebut menggambarkan bagaimana sebagian manusia mulai menjauh dari nilai-nilai yang diajarkan oleh orang tua dan para guru. Ketika hubungan dengan sumber nilai tersebut terputus, maka manusia mudah kehilangan arah dalam kehidupan.
Budaya Menyia-nyiakan Waktu
Distraksi sosial juga terlihat dari kebiasaan sebagian masyarakat yang gemar menyia-nyiakan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.
Dalam wasiatnya, Maulanassyaikh menggambarkan kondisi tersebut dengan ungkapan:
“Banyak orang membuang waktu,
Setiap saat bermain kartu.
Sehingga melelang sembahyang fardu,
Lupa mertua lupa menantu.”
Nasihat tersebut mengingatkan bahwa kesibukan yang tidak bermanfaat dapat membuat seseorang melalaikan kewajiban agama, bahkan melupakan tanggung jawab terhadap keluarga.
Fenomena Kesombongan di Kalangan Pemuda
Maulanassyaikh juga menyoroti fenomena kesombongan yang muncul di kalangan sebagian generasi muda. Dalam pandangannya, ada sebagian pemuda yang merasa gagah dan hebat, namun tidak memiliki dasar ilmu dan akhlak yang kuat.
Hal tersebut tergambar dalam bait berikut:
“Banyak pemuda berlenggang lenggok,
Berasa diri gagah dan elok.
Ulama auliya diolok-olok,
Belum bertaji sudah berkokok.”
Ungkapan tersebut menjadi peringatan agar generasi muda tidak terjebak pada kesombongan, terlebih dengan merendahkan para ulama dan orang-orang saleh.
Al-Qur’an sebagai Pedoman Akhlak
Melalui berbagai nasihat tersebut, Maulanassyaikh menegaskan bahwa Al-Qur’an harus menjadi pedoman utama dalam membangun akhlak dan menghadapi tantangan zaman.
Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber nilai dan pedoman hidup, umat Islam diharapkan mampu menjaga keimanan, memperkuat akhlak, serta tidak mudah terpengaruh oleh berbagai distraksi sosial yang berkembang di tengah masyarakat.
Pesan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kemajuan zaman tidak boleh membuat manusia kehilangan arah. Justru di tengah perubahan sosial yang cepat, nilai-nilai Al-Qur’an harus semakin kuat dijadikan sebagai pegangan dalam kehidupan.
