Aktor Ben Kasyafani membeberkan sejumlah tantangan yang ia hadapi saat membintangi film terbaru berjudul Setannya Cuan. Kesulitan utama yang dirasakannya adalah mendalami karakter serta aspek bahasa yang digunakan dalam film produksi Radepa Black tersebut.
Ben menjelaskan bahwa latar tempat film yang berada di daerah pegunungan dengan nuansa tahun 1980-an menuntutnya untuk beradaptasi secara total. Hal ini mencakup dialek dan gestur yang sesuai dengan karakter orang desa.
“Challenging-nya lebih ke perannya sih, aku harus menggambarkan orang desa, terus juga setting-nya lama dan bahasa Sunda,” ujar Ben Kasyafani saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (28/2).
Selain tantangan karakter dan bahasa, pria berusia 42 tahun ini juga mengenang momen paling berkesan selama proses syuting. Momen tersebut terjadi ketika ia beradu akting dengan sutradara Anggy Umbara, yang turut berperan sebagai Ustaz dalam film tersebut.
Ben menceritakan, adegan bersama Anggy Umbara menjadi salah satu yang paling menguras tenaga dan waktu. “Sutradara top, dia akhirnya mau turun gunung untuk berakting menjadi Ustaz. Adegan turun dari atas ke bawah itu kami ulang banyak, lumayan banyak ulangnya. Panjang, teknis, hujan, dan lain-lain, licin, terus ada macam-macam,” ucapnya.
Medan yang sulit dan kebutuhan gambar yang kompleks membuat adegan tersebut harus diulang berkali-kali. Ben Kasyafani mengakui bahwa proses syuting film Setannya Cuan memberikan pengalaman berharga dengan berbagai rintangan yang berhasil ia taklukkan.
sumber gambar: jpnn.com 