Menjelang arus mudik Lebaran 2026, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah-Daerah Istimewa Yogyakarta telah mengidentifikasi puluhan titik yang berpotensi menimbulkan gangguan lalu lintas. Unit pelaksana teknis di bawah Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU) ini mencatat 46 titik rawan kemacetan dan kecelakaan di ruas jalan wilayah tersebut.
Kepala Bidang Preservasi I BBPJN Jateng-DIY, Fajar Triawan, menyatakan pemetaan ini dilakukan untuk memastikan kelancaran dan keamanan pemudik. “Total sebaran titik rawan kemacetan sebanyak 46 titik,” ujar Fajar di posko mudik Klonengan, Brebes, Jawa Tengah, pada Kamis (12/3).
Selain potensi kemacetan, BBPJN juga mendeteksi 23 titik rawan bencana di ruas jalan nasional Jawa Tengah. Titik-titik tersebut terdiri dari 14 lokasi rawan banjir dan sembilan lokasi rawan longsor. “Serta, sembilan titik rawan longsor,” tambah Fajar.
Fajar menjelaskan, kesiapan jalur Lebaran 2026 mencakup panjang jalan nasional di wilayah kerja BBPJN Jateng-DIY yang mencapai 1.888,69 kilometer. Jalan tersebut terbagi dalam 296 ruas dengan rata-rata tingkat kemantapan mencapai 94,20 persen.
Untuk mendukung kelancaran arus mudik, BBPJN menyiapkan berbagai peralatan pendukung Disaster Relief Unit (DRU). Peralatan ini ditempatkan di sejumlah titik strategis. “Yakni, di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pekalongan, UPT Karangjati Yogyakarta, UPT Buntu,” rincinya.
Terkait pekerjaan konstruksi, Fajar menegaskan bahwa seluruh aktivitas pembangunan telah dihentikan sementara menjelang arus mudik pada H-10 Lebaran, atau Rabu (11/3). Namun, penanganan lubang jalan melalui pekerjaan preservasi tetap dilakukan. “Namun, untuk pekerjaan preservasi jalan apabila terdapat lubang jalan, kami tetap lakukan penanganan. Jadi ada beberapa titik memang, tapi kami sudah berhenti di tanggal H-10 pekerjaan konstruksinya,” tegasnya.
BBPJN Jateng-DIY juga mendirikan 18 posko mudik di Jawa Tengah dan lima posko di Daerah Istimewa Yogyakarta. Posko-posko ini tersebar di semua ruas jalur jalan nasional untuk melayani pemudik. “Kemudian di Daerah Istimewa Yogyakarta didirikan lima posko sesuai dengan ruas dari manajer ruas masing-masing di ruas jalan nasional tersebut,” kata Fajar.
Kepala Satuan Kerja PJN 1 Provinsi Jawa Tengah, M Syidik Hidayat, menambahkan bahwa di Jawa Tengah terdapat tiga satuan kerja yang menangani wilayah luas. PJN 1 sendiri mencakup Losari hingga Semarang, Tegal dan Slawi ke arah selatan sampai Wangon, serta Wangon ke arah Majenang hingga perbatasan Jawa Barat. “Total panjang jalan yang menjadi tanggung jawab Pajen 1 adalah 462 kilometer,” ungkap Syidik.
Syidik menjelaskan, persimpangan Dermojaya atau Flyover Klonengan menjadi titik krusial bagi pemudik dari Jakarta menuju wilayah selatan Jawa Tengah. Lokasi ini merupakan jalur utama penghubung ke kota-kota seperti Cilacap, Purwokerto, Banyumas, Kebumen, Purworejo, hingga Yogyakarta. “Selain jalur ini, pemudik menuju Yogyakarta juga bisa melalui Pemalang, Semarang, atau menggunakan jalur tol,” sambungnya.
Saat ini, empat kegiatan utama sedang atau akan dilaksanakan di ruas jalan tersebut, yang total panjangnya sekitar 135,5 kilometer. Salah satunya adalah perbaikan di kawasan Dermojaya, termasuk pelebaran flyover dan pembangunan saluran irigasi sepanjang 9 kilometer, yang ditargetkan rampung Maret 2027.
Penanganan juga dilakukan pada ruas Tegal-Slawi-Dermojayan-Wangon sepanjang 24 kilometer. Selain itu, pekerjaan di wilayah Balapulang-Kemantran juga berjalan sebagai dukungan bagi jalan daerah. Kegiatan rutin seperti pemeliharaan kondisi jalan, penambalan lubang (patching), serta pembersihan drainase tetap dilakukan.
Mengingat jalur tersebut hanya memiliki dua lajur, rekayasa lalu lintas akan diberlakukan selama periode mudik dan arus balik Lebaran. “Untuk Rekayasa Lalu Lintas Karena jalur saat ini hanya terdiri dari dua lajur, biasanya diberlakukan sistem one way (satu arah) saat masa mudik (jakarta ke selatan) dan masa balik (selatan ke utara),” pungkas Syidik.
