Kantor SAR Pencarian dan Pertolongan (Kansar) atau Basarnas Palu, Sulawesi Tengah, memfokuskan pengawasan terhadap objek-objek wisata yang ramai dikunjungi masyarakat selama masa siaga SAR pada momen libur Lebaran. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi potensi insiden yang membahayakan keselamatan jiwa.

Basarnas Palu Siagakan Personel di Lokasi Rawan

Kepala Sub Seksi Operasi dan Siaga SAR Kansar Palu, Rusmadi, menjelaskan bahwa objek wisata merupakan salah satu tempat dengan risiko tinggi. “Objek wisata salah satu tempat berisiko membahayakan keselamatan jiwa manusia, baik itu di pantai, gunung maupun objek wisata buatan lainnya. Maka kami hadir untuk mengantisipasi bila terjadi kondisi darurat,” ujar Rusmadi di Palu, Selasa (24/3/2026).

Selama periode libur Lebaran, Basarnas Palu menyiagakan personel di beberapa objek wisata favorit masyarakat. Lokasi-lokasi tersebut meliputi pantai Kampung Nelayan dan Taipa Beach di kawasan Teluk Palu, serta Pantai Tanjung Karang di Kabupaten Donggala.

“Tempat-tempat itu masih menjadi favorit masyarakat, kehadiran kami untuk memberikan pertolongan maupun pencegahan terhadap kondisi membahayakan keselamatan jiwa,” tambahnya.

Pengerahan 114 Personel dan KN SAR Baladewa

Dalam operasi siaga SAR ini, Basarnas Palu mengerahkan total 114 personel yang tergabung dalam satuan tugas. Secara spesifik, empat personel disiagakan di Tanjung Karang, sementara masing-masing lima personel ditempatkan di Kampung Nelayan dan Taipa Beach.

Selain personel, Basarnas Palu juga menyiagakan alat utama (alur) SAR, termasuk KN SAR Baladewa. Kapal tersebut ditempatkan di Pelabuhan milik TNI-AL Kelurahan Watusamu, Kecamatan Ulujai, untuk mendukung respons cepat.

“Kami juga menyiagakan alat utama (alur) SAR guna mendukung kegiatan Siaga SAR khusus Lebaran yang dimulai 13 sampan dengan 30 Maret 2026,” kata Rusmadi, merujuk pada periode siaga yang berlangsung hingga akhir Maret.

Imbauan untuk Pengunjung

Rusmadi berharap kehadiran Siaga SAR ini dapat secara signifikan menekan ancaman insiden kecelakaan. Ia juga menekankan pentingnya peran serta masyarakat dalam menjaga keselamatan diri.

“Segala kemungkinan bisa saja terjadi kalau tidak dilakukan pencegahan. Setiap pengunjung wajib mematuhi aturan dari pengelola wisata. Khusus pengunjung wisata bahari sebaliknya tidak berenang melewati batas aman, karena hal itu bisa berisiko,” tegasnya.

Menurut Rusmadi, tantangan dan permasalahan yang dihadapi setiap tahun bisa berbeda, tergantung situasi dan kondisi lokasi kejadian. Oleh karena itu, pemantauan serta penempatan personel pada objek-objek vital menjadi langkah utama dalam operasi siaga SAR.