Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Nusa Tenggara Barat (NTB) secara intensif melakukan survei lokasi jalur pendakian di kawasan Gunung Rinjani. Langkah ini merupakan bagian dari upaya peningkatan dan pembangunan sarana serta prasarana pendakian, dengan fokus utama pada keselamatan pengunjung.

“Ini salah satu upaya untuk peningkatan keselamatan jalur pendakian di kawasan Gunung Rinjani,” ujar Kepala Balai TNGR NTB, Budhy Kurniawan, di Mataram pada Kamis, 20 Februari 2026.

Kurniawan menjelaskan, beberapa jalur pendakian yang menjadi target survei meliputi Aik Berik, Timbanuh, dan Tetebatu. Selain itu, survei juga mencakup perencanaan pembangunan sarana pengaman di jalur Sembalun, Torean, dan Senaru.

Kegiatan survei ini sangat komprehensif, meliputi penentuan titik lokasi pembangunan shelter, pemasangan railing, perbaikan dan penataan jalur, hingga penelusuran sumber mata air. Penemuan sumber mata air dianggap krusial, terutama di Plawangan Sembalun, mengingat air adalah “nadi kehidupan di ketinggian” bagi para pendaki.

“Kemudian hasil survei tim akan menjadi pedoman utama dalam peningkatan dan pembangunan sarana serta prasarana pendakian,” tambah Budhy Kurniawan.

Setiap temuan di lapangan, mulai dari kondisi jalur, titik rawan, kebutuhan fasilitas keselamatan, hingga aspek kenyamanan pendaki, dicatat dan dianalisis secara menyeluruh. Data yang terkumpul ini akan menjadi dasar penentuan prioritas perbaikan dan pengembangan fasilitas.

“Data tersebut menjadi dasar dalam menentukan prioritas perbaikan dan pengembangan fasilitas, agar proses pendakian dapat berlangsung lebih aman, nyaman, tertata, dan tetap memperhatikan prinsip kelestarian lingkungan,” tegas Budhy Kurniawan.

Ia menekankan bahwa pengelolaan jalur pendakian tidak lagi didasarkan pada asumsi, melainkan berbasis data dan kondisi riil di lapangan. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas seluruh jalur pendakian.

“Harapannya, seluruh jalur dapat terus ditingkatkan kualitasnya sehingga mampu memberikan pengalaman pendakian yang lebih baik tanpa mengesampingkan aspek konservasi,” ujarnya.

Upaya peningkatan ini dilakukan di masa penutupan jalur pendakian pada awal tahun 2026. Balai TNGR berkomitmen untuk mewujudkan pendakian yang lebih aman, nyaman, dan berkelanjutan saat jalur dibuka kembali.

“Karena pendakian yang baik selalu dimulai dari perencanaan yang matang,” pungkas Budhy Kurniawan.