Pemerintah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengimbau warganya untuk tetap tenang dan tidak melakukan aksi borong atau panic buying. Imbauan ini disampaikan menyikapi potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah memanasnya krisis di Timur Tengah yang berdampak pada pasokan global.
Asisten II Sekretaris Daerah (Setda) Kota Mataram, H Miftahurrahman, menegaskan bahwa kondisi stok BBM dan kebutuhan pokok lainnya di Mataram masih terkendali. Ia berharap masyarakat dapat menyesuaikan diri dengan situasi global yang ada.
Dampak Krisis Global dan Jaminan Stok
“Kita harus tetap tenang. Pengaruh global tentu tidak hanya dirasakan di Mataram, tapi seluruh dunia,” kata Miftahurrahman di Mataram, Rabu (5/3/2026).
Pernyataan tersebut menyoroti situasi geopolitik global, khususnya terkait penutupan Selat Hormuz yang berpotensi memengaruhi pasokan gas dan minyak dunia. Miftahurrahman menekankan bahwa dampak ini bersifat global dan dirasakan oleh semua negara, bukan hanya Kota Mataram atau Indonesia.
“Karena itu, masyarakat harus tetap tenang dan berbelanja sesuai kebutuhan. Tidak panik,” tegasnya.
Hingga saat ini, Pemerintah Kota Mataram terus memantau ketersediaan stok kebutuhan pokok. Diperkirakan, pasokan masih mencukupi untuk kebutuhan masyarakat dalam beberapa pekan ke depan.
Pengendalian Harga Jelang Ramadhan dan Idul Fitri
Terkait kebutuhan pokok, Pemerintah Kota Mataram secara intensif melakukan pemantauan dan upaya pengendalian harga, terutama menjelang bulan Ramadhan. Langkah ini bertujuan memastikan stok tetap tersedia hingga perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah.
Untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga selama Ramadhan, pemerintah kota telah menggencarkan kegiatan pasar rakyat atau operasi pasar murah. Kegiatan ini menjual berbagai kebutuhan pokok seperti beras, gula, minyak, tepung, cabai, tomat, bawang, dan telur dengan harga di bawah pasar.
“Kita sekarang masif melaksanakan operasi pasar murah dan sedang berjalan dirangkai dengan kegiatan safari Ramadhan. Alhamdulillah, sejauh ini tidak ada gejolak yang signifikan di masyarakat,” ungkap Miftahurrahman.
Meskipun demikian, beberapa komoditas memang mengalami kenaikan harga. Cabai rawit, misalnya, sempat melonjak signifikan hingga mencapai Rp115 ribu per kilogram pada akhir Februari 2026, bahkan sempat menyentuh Rp180 ribu per kilogram. Kenaikan harga cabai ini menjadi salah satu penyumbang inflasi di bulan Februari 2026.
“Meskipun naik, tapi stok di pasar tetap tersedia. Karena itu, masyarakat jangan panik, belanja sesuai kebutuhan bukan keinginan,” pungkasnya.
sumber gambar: ANTARA 