Peringatan Nuzulul Quran 1447 Hijriah menjadi momentum krusial bagi umat Islam untuk kembali meneguhkan komitmen menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup. Peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW ini menandai awal lahirnya peradaban Islam yang menjunjung tinggi ilmu, akhlak, kebenaran, dan keadilan.

Allah SWT berfirman dalam Alquran, “Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang benar dan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Alquran sebagai Pedoman Hidup dan Sumber Inspirasi

Penasihat Dewan Pengurus Pusat Persatuan Ummat Islam (DPP PUI), Prof. Dr. KH. Achmad Tjachja Nugraha, pada Kamis (12/3) menyatakan, Nuzulul Quran harus dimaknai sebagai dorongan bagi umat Islam untuk dekat dengan Alquran. “Alquran adalah sumber nilai dan inspirasi dalam membangun kehidupan yang beradab, berilmu, kebenaran dan berkeadilan. Alquran dapat menjadi rujukan penyelesaian permasalahan kehidupan,” tuturnya.

Menurut Achmad, Alquran tidak hanya menjadi pedoman ibadah, tetapi juga memberikan arah dalam kehidupan sosial, pendidikan, hingga pembangunan peradaban umat. Ia juga mengingatkan firman Allah yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad SAW, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1). Ayat ini, lanjutnya, menjadi dasar penting bahwa Islam sangat menekankan ilmu pengetahuan dan pendidikan sebagai fondasi kemajuan umat, termasuk pendidikan agama dan sekolah bagi generasi muda.

Peran PUI dalam Dakwah dan Pemberdayaan Umat

Achmad Tjachja menyoroti pentingnya peran organisasi keagamaan dalam menjaga dan mengembangkan nilai-nilai Alquran di tengah masyarakat. Dalam konteks ini, Persatuan Ummat Islam (PUI) memiliki tanggung jawab besar untuk terus menguatkan dakwah dan pendidikan umat.

“Sejak berdiri, PUI dikenal aktif dalam pengembangan pendidikan, dakwah, serta pemberdayaan masyarakat. Melalui jaringan pesantren, sekolah, dan berbagai lembaga sosial, PUI berupaya menghadirkan nilai-nilai Islam yang moderat, berilmu dan berakhlak,” ungkapnya.

Achmad Tjachja, yang juga sebagai pokahli BNN RI, turut mengingatkan pentingnya peningkatan peran santri dalam menjaga pesantren, sekolah, keluarga, dan lingkungan dari pengaruh penyalahgunaan narkoba. “Dengan semangat Nuzulul Quran mari kita juga perkuat peran organisasi Islam, para ulama, serta santri untuk sama sama perangi narkoba,” tegasnya.

Santri sebagai Penjaga Moral dan Penggerak Perubahan

Sementara itu, Ketua Umum DPP PUI, Raizal Arifin, menyampaikan bahwa tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut organisasi Islam untuk terus adaptif tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar ajaran Islam. “PUI harus terus hadir di tengah masyarakat melalui pendidikan, dakwah, dan pembinaan generasi muda agar nilai-nilai Al-Qur’an tetap hidup dalam kehidupan umat,” jelasnya.

Raizal juga menekankan peran strategis santri dalam menjaga moral dan peradaban umat. Santri tidak hanya dikenal sebagai pelajar di pesantren, tetapi juga sebagai generasi yang memiliki tanggung jawab besar dalam melanjutkan tradisi keilmuan Islam. “Dari pesantren banyak lahir santri yang menjadi tokoh dengan kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan hingga pembangunan bangsa. Santri harus menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Mereka adalah penjaga nilai-nilai keislaman sekaligus penggerak perubahan sosial,” tandasnya.

Raizal berharap momentum Peringatan Nuzulul Quran 1447 H dapat memperkuat semangat umat Islam untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Selain itu, diharapkan pula lahirnya generasi santri yang mampu menjawab tantangan dan permasalahan zaman dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam.