MATARAM – Harga cabai rawit di Nusa Tenggara Barat (NTB) melonjak signifikan hingga menyentuh angka Rp95.000 per kilogram menjelang bulan suci Ramadan. Kondisi ini memicu desakan dari Anggota Komisi II Bidang Perekonomian DPRD NTB, Lalu Arif Rahman Hakim, agar pemerintah daerah dan petani melakukan diversifikasi produksi guna menstabilkan pasokan.

DPRD NTB Dorong Diversifikasi Produksi

Lalu Arif Rahman Hakim menyatakan, langkah diversifikasi produksi cabai rawit sangat krusial untuk mencegah lonjakan harga ekstrem dan mengurangi ketergantungan pasokan dari sentra tertentu. “Langkah ini untuk meningkatkan ketahanan pangan, menstabilkan pasokan, dan meningkatkan pendapatan petani melalui diversifikasi produk olahan,” ujarnya di Mataram, Rabu (11/2/2026).

Kenaikan harga cabai rawit saat ini berada di kisaran Rp90.000 hingga Rp95.000 per kilogram, jauh melampaui harga acuan yang diharapkan sekitar Rp57.000 per kilogram. Anggota DPRD NTB dari daerah pemilihan Kabupaten Lombok Tengah ini mengakui bahwa tingginya harga dipengaruhi oleh permintaan yang melonjak, sementara stok di wilayah tersebut sangat terbatas.

Namun, Miq Arif, sapaan akrabnya, membantah bahwa kenaikan harga tersebut disebabkan oleh tingginya permintaan untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG). “Kalau mahal berarti permintaan banyak. Tapi, apa iya karena MBG. Kan tidak mungkin, karena makan anak-anak nggak butuh banyak cabai,” ungkapnya.

Menurutnya, pemerintah daerah perlu segera mengimplementasikan diversifikasi pola tanam kepada petani, seperti rotasi tanaman atau tumpang sari. Petani diimbau untuk tidak hanya fokus menanam cabai, tetapi juga mengombinasikannya dengan sayuran lain untuk mencegah kelangkaan. “Mesti ada inovasi petani dalam rangka stabilkan harga. Harus perbanyak tanam dengan sistem tumpang sari. Jadi, jangan sekedar latah,” tegasnya.

Selain itu, penyesuaian musim tanam juga diperlukan agar produksi tetap berlangsung konsisten, baik saat musim hujan maupun kemarau. Gerakan menanam cabai di pekarangan rumah juga didorong sebagai upaya memperluas lahan pertanian. Dukungan pemerintah melalui penyerapan cabai langsung dari petani saat panen raya, serta bantuan peralatan, juga dianggap penting untuk menjaga stabilitas harga.

“Adanya diversifikasi ini, diharapkan pasokan cabai lebih stabil sepanjang tahun, sehingga mengurangi kepanikan pasar dan lonjakan harga yang ekstrem,” kata Lalu Arif Rahman Hakim.

Gubernur NTB Pastikan Intervensi Pasar

Sebelumnya, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Mandalika Bertais pada Selasa (10/2/2026). Sidak tersebut bertujuan untuk memastikan stabilitas harga bahan pokok menjelang Ramadan.

Dari hasil pemantauan lapangan, Gubernur Iqbal menemukan bahwa lonjakan harga paling signifikan terjadi pada cabai rawit, yang mencapai Rp90.000 hingga Rp95.000 per kilogram. “Lonjakan paling tinggi ada di cabai rawit, dan ini sangat mempengaruhi indeks harga. Karena itu, kami tegaskan intervensi pasar akan dimulai Jumat ini melalui Gerakan Pangan Murah di seluruh pasar di NTB,” ujar Iqbal.

Iqbal menjelaskan, kenaikan harga dipicu oleh tiga faktor utama: curah hujan yang menghambat panen, tingginya pasokan cabai yang dikirim ke Pulau Jawa, serta peningkatan permintaan masyarakat menjelang Ramadan. Meski demikian, Gubernur memastikan tidak ditemukan indikasi penimbunan di pasar.