Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), mencatat realisasi investasi yang signifikan pada tahun 2025. Total investasi, baik penanaman modal asing (PMA) maupun penanaman modal dalam negeri (PMDN), berhasil menembus angka Rp7 triliun.
Angka tersebut jauh melampaui target yang telah ditetapkan. Sekretaris Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMP2T) Kabupaten Lombok Tengah, Helmi Qazwaini, menyatakan, “Realisasi investasi di Lombok Tengah mencapai 200 persen lebih dari total target yang ditetapkan pemerintah Rp3 triliun.”
Helmi menjelaskan, target investasi berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) periode 2021-2025 adalah sebesar Rp2,9 triliun. Sementara itu, target investasi yang diberikan pemerintah mencapai Rp3 triliun.
Secara rinci, Helmi memaparkan bahwa “Realisasi investasi untuk penanaman modal asing Rp 2,2 triliun dan penanaman modal dalam negeri Rp 5,4 triliun.” Ini menunjukkan kontribusi yang kuat dari investor domestik.
Peningkatan realisasi investasi ini, menurut Helmi, tidak lepas dari upaya pihaknya dalam meningkatkan pengawasan terhadap para investor, khususnya terkait penyampaian Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN). Pada tahun 2024, jumlah pelaku usaha yang melaporkan LHKPN belum optimal, namun pada 2025, jumlahnya melonjak drastis.
“Pelaku usaha atau investor yang telah menyampaikan LHKPN itu sekitar 1.000 pengusaha,” ujarnya, menandakan kepatuhan yang lebih baik dari para pelaku usaha.
Bentuk investasi yang masuk ke Lombok Tengah beragam, meliputi sektor jasa, industri, perumahan, serta akomodasi hotel dan restoran. Ini menunjukkan diversifikasi ekonomi di wilayah tersebut.
Helmi juga mengidentifikasi kecamatan-kecamatan dengan investasi terbanyak. “Dari 12 kecamatan di Lombok Tengah, dua kecamatan yang paling banyak investasi di Kecamatan Pujut dan Kecamatan Praya, baru Kecamatan Praya Barat, Praya Barat Daya,” pungkasnya, menyoroti konsentrasi pembangunan di beberapa area strategis.
