Jepara, Jawa Tengah – Yayasan Indonesia Setara (YIS) bersama Bank Infaq, NRC, dan Gentanala menggelar pelatihan pengolahan limbah kayu di Jepara, Jawa Tengah, pada Jumat (6/2). Kegiatan ini bertujuan untuk memberdayakan warga setempat agar mencapai kemandirian ekonomi melalui pemanfaatan limbah kayu yang bernilai tambah.
Pelatihan yang diikuti oleh 30 peserta ini berfokus pada workshop pembuatan holder ponsel dan liontin kalung dari limbah kayu. Selain itu, peserta juga diajarkan keterampilan teknis (hardskill) dalam membuat holder ponsel dan gantungan kunci berbahan resin, yang dipilih karena materialnya murah dan mudah dimodifikasi dari limbah kayu.
Setelah sesi tatap muka, para peserta akan melanjutkan dengan pendampingan daring selama tiga minggu. Dalam fase ini, mereka dapat berdiskusi langsung dengan pelatih terkait tantangan yang dihadapi, serta mendapatkan bimbingan mengenai pengembangan usaha, pembuatan konten promosi, hingga strategi pemasaran digital.
Sandiaga Uno Apresiasi Kolaborasi Pemberdayaan
Founder YIS, Sandiaga Salahuddin Uno, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin dengan NRC dan Bank Infaq dalam program ini. “Senang rasanya bisa berkolaborasi. Semoga program ini menjadi langkah awal untuk kolaborasi berikutnya. Hal ini memang menjadi fokus kami sejak lama, untuk memberdayakan potensi bangsa, termasuk perempuan, anak muda, penyandang disabilitas dan masyarakat desa,” ujar Sandiaga.
Sandiaga menambahkan, pelatihan di Jepara ini merupakan bagian dari upaya pemberdayaan desa. Ia menekankan relevansi inovasi pengolahan limbah kayu menjadi produk bernilai tambah di kota yang memang dikenal sebagai sentra kerajinan kayu dan furnitur tersebut.
Inovasi Limbah Kayu Hasilkan Produk Bernilai Tinggi
Sementara itu, Perwakilan NRC, Wawan, turut menyoroti pentingnya inovasi dalam pengolahan limbah kayu. “Dengan dibantu Mas Reza, peserta dapat belajar menghasilkan karya-karya baru. Harapan kami, peserta terus mengembangkan produk inovatif di lingkungan mereka,” kata Wawan.
Reza, salah satu peserta sekaligus mentor pelatihan yang sebelumnya tergabung dalam program Rocket Youthpreneur, berbagi pengalamannya dalam mengolah limbah kayu menjadi jam tangan. Ia menjelaskan bahwa merek Gentanala yang didirikannya berfokus pada pemanfaatan limbah kayu menjadi produk bernilai tinggi, seperti kotak, jam tangan, case handphone, dan berbagai aksesori lainnya.
“Limbah kayu jati yang biasanya terbuang bisa diolah kembali, menghasilkan produk bernilai jual tinggi, bahkan diekspor. Ini juga turut menjaga lingkungan karena limbah tidak dibakar atau dibuang,” pungkas Reza.
