Presiden RI Prabowo Subianto kembali melanjutkan tradisi tahunan dengan membeli empat ekor sapi jumbo dari Polewali Mandar, Sulawesi Barat, untuk kebutuhan kurban Iduladha 1447 Hijriah. Konsistensi ini menandai satu dekade berturut-turut, sebuah kebiasaan yang telah berlangsung sejak era Presiden Joko Widodo hingga kini di bawah kepemimpinan Prabowo.

Tradisi 10 Tahun dan Peningkatan Kualitas Peternak Lokal

Empat ekor sapi yang dibeli Presiden Prabowo tahun ini memiliki bobot rata-rata di atas 1 ton, dengan harga masing-masing dibanderol lebih dari Rp100 juta. Seluruh sapi tersebut berasal dari Kecamatan Wonomulyo, sebuah wilayah yang dikenal sebagai sentra penghasil sapi unggulan jenis Limosin, Simental, dan Berangus.

Bupati Polewali Mandar, Samsul Mahmud, mengungkapkan rasa bangganya atas kepercayaan yang terus diberikan. “Ini menjadi kebanggaan bagi masyarakat Polewali Mandar. Selama 10 tahun berturut-turut peternak kita dipercaya memasok sapi kurban Presiden. Pemerintah daerah tentu akan terus memberi dukungan melalui dinas peternakan dan penyuluh agar produktivitas peternak semakin meningkat,” ujar Samsul saat dikonfirmasi pada Sabtu (9/5).

Sapi Jumbo Primadona dari Polewali Mandar

Di antara keempat sapi yang terpilih, seekor sapi Limosin berusia 3,5 tahun bernama Bagong menjadi primadona. Sapi milik peternak Muh. Nur dari Dusun Pendukuan, Desa Sumberjo, ini memiliki bobot fantastis 1.150 kilogram, menjadikannya sapi kurban presiden terberat dari Sulawesi Barat tahun ini. Bagong rencananya akan disembelih di Kabupaten Mamuju.

Selain Bagong, tiga sapi jumbo lainnya yang akan disalurkan adalah:

  • Bima: Sapi Simental berusia 5 tahun dengan bobot 1.053 kg, milik H. Iskandar Ngani. Sapi ini akan disalurkan ke Masjid Jami Tanro, Polewali Mandar.
  • Blecki: Sapi Berangus berusia 4 tahun dengan bobot 1.011 kg, milik Muhammad Yusuf. Sapi ini akan dikirim ke Kecamatan Pamboang, Majene.
  • Arjuna: Sapi Simental berusia 4,5 tahun dengan bobot 960,3 kg, milik Andrian Henri Prayoga. Sapi ini akan disalurkan untuk Kecamatan Tabulahan, Kabupaten Mamasa.

Proses Seleksi Ketat dan Peran Inseminator

Kepala Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan Polewali Mandar, Mohammad Jumadil, menjelaskan bahwa keempat sapi ini terpilih melalui proses seleksi superketat dari total 20 ekor peserta. “Dari empat sapi terpilih, satu ekor dengan bobot tertinggi (Bagong) akan disiapkan untuk kurban tingkat provinsi. Sementara tiga lainnya akan disalurkan ke kabupaten lain yang belum memiliki sapi sesuai standar minimal 800 kilogram,” jelas Jumadil.

Jumadil menambahkan, keberhasilan Polewali Mandar dalam mempertahankan predikat sebagai pemasok sapi kurban Presiden tidak terlepas dari pembinaan peternak yang berkelanjutan serta peran vital para inseminator di lapangan. “Ini hasil kerja panjang. Para inseminator kita menjadi ujung tombak lahirnya sapi-sapi berkualitas yang mampu bersaing hingga tingkat nasional,” pungkasnya.